Politics of Frozen Oil Assets: Siapa Mengontrol Minyak Venezuela di Era Sanksi?

Ilustrasi ladang minyak Venezuela (Pic: Grok AI)


Negara dengan minyak terbesar dunia justru memiliki kontrol terbatas atas uang dari minyaknya sendiri



Sejak 2019, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada perusahaan minyak negara Venezuela:

PDVSA

pembatasan ekspor minyak

pembekuan aset di AS

pembatasan transaksi dolar


Tujuannya jelas secara resmi: melemahkan pemerintahan Nicolás Maduro dengan memotong sumber pendapatan utama negara.


Karena Venezuela:

90% pendapatan ekspor berasal dari minyak

minyak = sumber utama devisa negara


Sanksi ini secara efektif mengubah minyak Venezuela dari komoditas ekonomi menjadi instrumen politik global.



“Frozen Oil Assets” bukan Metafora


Istilah ini merujuk pada beberapa hal nyata: Aset minyak Venezuela di luar negeri.

Contoh paling terkenal:

CITGO (kilang di AS)

rekening bank PDVSA di luar negeri

pembayaran minyak yang ditahan


AS membekukan aset ini dan mengalihkan kontrol administratifnya ke oposisi Venezuela yang diakui Washington saat itu.


Ini menciptakan situasi unik: Negara memiliki minyak, tetapi tidak mengontrol uangnya.



Siapa Sebenarnya Mengontrol Minyak Venezuela?


Jawaban akademik yang jujur: tidak ada satu aktor tunggal.


Kontrolnya terfragmentasi.


Kita bisa petakan seperti ini:


Komponen

Pengontrol nyata

Produksi minyak

PDVSA (Venezuela)

Ekspor legal

negara yang diberi lisensi sanksi

Aset luar negeri

AS & pengadilan internasional

Penjualan alternatif

jaringan trader global

Pembayaran minyak

rekening escrow / bank asing


Dengan kata lain: minyak Venezuela diproduksi oleh Venezuela, tetapi sistem keuangannya dikendalikan oleh sanksi.



Politik “Escrow Oil”


Dalam banyak kasus sanksi minyak global (Iran, Irak 1990-an, Venezuela), muncul mekanisme: rekening escrow.


Artinya:

minyak boleh dijual terbatas

uangnya tidak langsung ke pemerintah

dana disimpan atau diawasi pihak ketiga


Model ini dikenal dalam studi hubungan internasional sebagai: resource containment governance, atau dalam bahasa sederhana:

minyak boleh mengalir, tapi uangnya dijaga.



Aktor global dalam minyak Venezuela


Karena sanksi Barat, pembeli minyak Venezuela berubah.


Pembeli utama:

China

India

jaringan trader independen

perusahaan bayangan

perantara Rusia dan Iran


Sanksi tidak menghentikan minyak sepenuhnya, tetapi: mengubah jalur perdagangan menjadi lebih mahal, lebih gelap, dan lebih politis.  



Paradoks politik minyak Venezuela


Ada tiga paradoks utama:


Paradoks kedaulatan

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar dunia, tetapi tidak bebas menjualnya.


Paradoks legitimasi

AS mengklaim membekukan aset untuk demokrasi Venezuela,tetapi efeknya juga:

memperdalam krisis ekonomi

melemahkan negara


Paradoks kontrol

Minyak tetap diproduksi, tetapi:

uangnya tidak sepenuhnya di Caracas

distribusinya dipolitisasi


Dalam literatur ekonomi politik internasional, ini disebut: financial sovereignty fragmentation.



Jadi siapa mengontrol minyak Venezuela?


Jawaban ilmiah yang paling akurat:


Kontrolnya terbagi antara:

negara Venezuela (produksi)

rezim sanksi AS (akses pasar & uang)

trader global (distribusi)

pembeli Asia (permintaan)


Tidak ada aktor tunggal yang memegang semuanya.


Minyak Venezuela sekarang lebih mirip: ekosistem geopolitik daripada komoditas nasional.



Sanksi minyak Venezuela bukan sekadar kebijakan ekonomi.


Ia adalah:

alat tekanan politik

mekanisme kontrol finansial

instrumen negosiasi global


Dalam bahasa teori hubungan internasional: minyak Venezuela telah berubah dari resource sovereignty menjadi sanction-managed commodity.


Dan di sinilah ironi geopolitik muncul: negara dengan minyak terbesar dunia justru memiliki kontrol terbatas atas uang dari minyaknya sendiri.


Seperti memiliki sumur emas di halaman rumah, tetapi kunci gerbangnya dipegang orang lain.








Referensi 


Drezner, D. W. (2011).

Sanctions sometimes smart: Targeted sanctions in theory and practice.

International Studies Review, 13(1), 96–108. https://doi.org/10.1111/j.1468-2486.2010.01013.x


Farrell, H., & Newman, A. L. (2019).

Weaponized interdependence: How global economic networks shape state coercion.

International Security, 44(1), 42–79. https://doi.org/10.1162/isec_a_00351


Hufbauer, G. C., Schott, J. J., Elliott, K. A., & Oegg, B. (2007).

Economic sanctions reconsidered (3rd ed.). Peterson Institute for International Economics.


Monaldi, F. (2020).

The political economy of oil sanctions: Venezuela as a case study.

Energy Policy, 142, 111498. https://doi.org/10.1016/j.enpol.2020.111498


Tooze, A. (2018).

Crashed: How a decade of financial crises changed the world. Viking.


United Nations Conference on Trade and Development. (2022).

Commodities at a glance: Special issue on sanctions and energy markets. United Nations.


U.S. Department of the Treasury, Office of Foreign Assets Control. (2024).

Sanctions programs and country information: Venezuela. https://ofac.treasury.gov


Weisbrot, M., & Sachs, J. (2019).

Economic sanctions as collective punishment: The case of Venezuela.

Center for Economic and Policy Research.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?