China dan Re-Konfigurasi Pasar Senjata Afrika Barat: Kekosongan Kekuasaan Pasca-Perancis dan Kompetisi Hegemoni Abad ke-21

 

Ilustrasi transaksi penjualan senjata (Pic: Grok AI)


Geopolitik jarang bergerak dengan suara keras. Kadang ia hanya terdengar seperti bunyi pena yang menandatangani kontrak. Dan kontrak senjata sering lebih menentukan masa depan daripada pidato perdamaian



Mundurnya pengaruh militer Perancis di Afrika Barat, disertai distraksi strategis Rusia membuka ruang bagi China untuk memperluas ekspor senjata dan pengaruh keamanan. 


Artikel ini menganalisis fenomena tersebut dalam kerangka realisme struktural, ekonomi politik persenjataan, dan strategi great power competition.



Pendahuluan


Afrika Barat selama beberapa dekade merupakan zona pengaruh tradisional Perancis, terutama di wilayah Sahel. 


Namun dalam beberapa tahun terakhir:

kudeta militer meningkat

sentimen anti-Perancis menguat

operasi militer Perancis ditarik atau dipaksa mundur


Sementara Rusia, yang sempat masuk melalui jaringan keamanan dan kontraktor militer, kini terfokus pada konflik di Eropa Timur dan tekanan domestik.


Di ruang kosong itu, China masuk. Bukan dengan pasukan. Dengan kontrak.



Realisme Struktural: Kekosongan Tidak Pernah Kosong


Dalam teori Kenneth Waltz, sistem internasional bersifat anarkis. Ketika satu kekuatan melemah, yang lain mengisi.


Mundurnya Perancis berarti:

berkurangnya dukungan militer langsung

berkurangnya pelatihan dan logistik

terbukanya kebutuhan persenjataan alternatif


China menawarkan:

harga lebih murah

tanpa syarat politik eksplisit soal HAM

pembiayaan fleksibel


Di dunia yang lelah dengan kuliah moral Barat, tawaran itu terdengar praktis.



Ekonomi Politik Senjata: Senjata sebagai Diplomasi


Ekspor senjata bukan sekadar transaksi.


Ia menciptakan:

ketergantungan suku cadang

ketergantungan pelatihan

ketergantungan teknologi


Ketika negara membeli sistem radar atau kendaraan tempur dari China, ia tidak hanya membeli barang. Ia membeli ekosistem teknis dan hubungan jangka panjang.


Ini disebut security dependency chain.


Senjata adalah duta besar yang tidak pernah tidur.



Mengapa Perancis Mundur?


Penarikan Perancis dari beberapa negara Sahel dipicu oleh:

resistensi publik terhadap warisan kolonial

kegagalan mengendalikan kelompok militan

perubahan dinamika politik domestik Afrika


Dalam politik internasional, legitimasi sering lebih penting daripada kekuatan militer.


Jika kehadiran dianggap neo-kolonial, maka bahkan operasi kontraterorisme bisa kehilangan dukungan lokal.



Rusia Sibuk, China Sistematis


Rusia sebelumnya memperluas pengaruh lewat:

kontraktor militer swasta

perjanjian keamanan bilateral


Namun fokus konflik besar mengurangi bandwidth geopolitiknya.


China berbeda pendekatan:

tidak mengirim tentara

fokus pada perdagangan dan infrastruktur

lalu menambahkan kerja sama keamanan


Pendekatannya lebih lambat, tapi lebih terintegrasi.



Implikasi Global


Dominasi China di pasar senjata Afrika Barat berpotensi:

mengurangi pengaruh NATO di kawasan

memperkuat posisi China di PBB melalui dukungan diplomatik

memperluas jalur logistik Belt and Road

menciptakan poros keamanan alternatif


Afrika Barat menjadi papan catur multipolar.



Risiko bagi Afrika Barat


Ketergantungan pada satu pemasok senjata bisa:

mengurangi otonomi kebijakan

menciptakan risiko embargo masa depan

memperkuat rezim militer tanpa reformasi politik


Dalam sejarah, pasar senjata jarang netral terhadap dinamika demokrasi.



Perancis mundur bukan akhir cerita. Itu jeda.


Rusia sibuk bukan berarti hilang. Itu penyesuaian.


China tidak sekadar menjual senjata.

China sedang menanam pengaruh jangka panjang.


Di politik global, kekosongan kekuasaan itu seperti lubang di tanah basah. Jika tidak diisi oleh satu pihak, pihak lain akan menancapkan bendera.


Geopolitik jarang bergerak dengan suara keras. Kadang ia hanya terdengar seperti bunyi pena yang menandatangani kontrak. Dan kontrak senjata sering lebih menentukan masa depan daripada pidato perdamaian.


Dan Afrika Barat kini menjadi salah satu laboratorium utama kompetisi kekuatan abad ke-21.








Referensi


Buzan, B., & Wæver, O. (2003). Regions and Powers. Cambridge University Press.


SIPRI. (2023). Trends in International Arms Transfers. Stockholm International Peace Research Institute.


Waltz, K. N. (1979). Theory of International Politics. McGraw-Hill.


Brautigam, D. (2009). The Dragon’s Gift: The Real Story of China in Africa. Oxford University Press.


Tickner, A. B., & Waever, O. (2009). International Relations Scholarship Around the World. Routledge.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?