Dari Blueprint Kolonial Sykes–Picot ke Abraham Accords — Arsitektur Pecah-Belah di Timur Tengah: Pantesan Palestina Susah Merdeka

Ilustrasi Sykes-Picot (Pic: Grok)

Sykes–Picot menciptakan kondisi struktural yang membuat Palestina hampir mustahil punya kemerdekaan berdaulat yang stabil


Tahun 1916, dua pejabat kolonial, Mark Sykes (Inggris) dan François Georges-Picot (Prancis), duduk di meja lalu secara harfiah menggambar garis-garis sewenang-wenang di Timur Tengah yang saat itu masih Ottoman.


Tanpa konsultasi ke penduduk Arab. Tanpa pertimbangan etnis, agama, sejarah, atau identitas.


Mereka memperlakukan wilayah itu seperti:

• sepotong kue keju,

• dipotong pakai penggaris,

• lalu dikasih label A, B, dan C.


Ini menciptakan batas-batas buatan yang:

• memisahkan kelompok etnis yang semestinya satu,

• menyatukan kelompok-kelompok yang punya konflik mendalam,

• dan membentuk negara modern yang rapuh.


Efek domino masih terasa 100 tahun kemudian: Lebanon, Suriah, Irak, Palestina. Semua kena imbas geometri kolonial yang cacat secara moral dan intelektual.



Palestina: Zona yang tidak pernah dirancang untuk stabil


Dalam dokumen Sykes–Picot, Palestina punya status khusus: wilayah “internasional” di bawah kendali multilateral (Inggris, Prancis, Rusia).


Artinya:

bahkan sebelum Israel berdiri, Eropa sudah menganggap Palestina sebagai ruang yang bukan milik orang yang tinggal di sana.


Itu melahirkan:

• Balfour Declaration 1917 (janji Inggris pada Zionist Federation),

• peran Mandatory Palestine,

• migrasi Eropa Yahudi besar-besaran,

• dan fondasi konflik modern.


Dengan kata lain:

Sykes–Picot menciptakan kondisi struktural yang membuat Palestina hampir mustahil punya kemerdekaan berdaulat yang stabil.



Kelanjutannya: Abraham Accords? 


Abraham Accords (2020–2023) terlihat sebagai:

• normalisasi diplomatik Israel dengan UEA, Bahrain, Maroko, Sudan;

• integrasi ekonomi-teknologi kawasan;

• bypass isu Palestina supaya negara-negara Arab dapat keuntungan strategis.


Secara akademik, Abraham Accords tidak menjajah teritori seperti Sykes–Picot.

Tapi secara struktur politik, ia:

• memperkuat peta geopolitik pasca-Sykes–Picot,

• memperlemah bargaining Palestina,

• mengalihkan fokus Arab dari nasib Palestina ke kepentingan nasional masing-masing.


Jadi, apakah Abraham Accords kelanjutan Sykes–Picot?


Jika dilihat dari logika kekuasaan: iya.

Jika dilihat dari mekanisme formal: tidak.


Sykes–Picot = desain kolonial pembagian wilayah.

Abraham Accords = normalisasi hubungan yang memperkuat status quo yang sudah dibangun kolonialisme.



Kenapa Palestina “tidak selesai-selesai”?


Dari sudut ilmu politik:

• struktur batas-batas kolonial rusak bawaan,

• kepentingan kekuatan besar (AS, Eropa),

• fragmentasi internal Palestina,

• politik etnokratis Israel,

• perpecahan elite Arab,

• nilai strategis geografis Palestina (poros Levant),

• dan warisan hukum internasional yang ambigu.


Pendeknya:

Sykes–Picot adalah fondasinya.

Abraham Accords memperkuat bangunannya.

Konfliknya jadi menahun.



Poin ilmiah Pedas tapi Jujur


Timur Tengah modern itu seperti bangunan yang pondasinya dibuat oleh dua orang arsitek kolonial yang tidak bisa geometri.


Setelah itu, pemilik baru renovasi seenaknya tanpa memperbaiki struktur utamanya.

Ya ambruk terus, ya konflik terus.








REFERENSI 

1. Fromkin, D. (1989). A Peace to End All Peace: The Fall of the Ottoman Empire and the Creation of the Modern Middle East. Henry Holt and Company. (Buku paling klasik soal gimana Sykes-Picot ngeremukkan dunia Arab.)

2. Cleveland, W. L., & Bunton, M. (2016). A History of the Modern Middle East (6th ed.). Westview Press. (Referensi mapan tentang kolonialisme dan bentuk negara modern Timur Tengah.)

3. Gelvin, J. L. (2011). The Modern Middle East: A History (3rd ed.). Oxford University Press. (Bahas Sykes-Picot, Mandate System, Palestina, sampai dinamika Zionisme-Arab nationalism.)

4. Rogan, E. (2017). The Fall of the Ottomans: The Great War in the Middle East. Basic Books. (Detail konteks WWI, kenapa Inggris dan Prancis merasa berhak bikin garis-garis lurus macam tepi kertas.)

5. Biger, G. (1995). The Boundaries of Modern Palestine, 1840–1947. Routledge.(Bukti betapa “wilayah Palestina” itu sengaja digoyang-goyang oleh kekuatan kolonial.)

6. Rabinovich, I. (2018). The Israeli-Palestinian Conflict: A Guide for the Perplexed. Bloomsbury. (Bahas transisi dari perjanjian kolonial ke struktur konflik modern, termasuk Abraham Accords.)

7. Lustick, I. (2019). Paradigm Lost: From Two-State Solution to One-State Reality. University of Pennsylvania Press. (Mengaitkan kegagalan solusi dua negara dengan warisan kolonial termasuk Sykes-Picot.)

8. Lynch, M. (2021). “The Abraham Accords and the Future of Middle East Normalization.” Foreign Affairs, 100(1), 54–66. (Analisis akademik paling banyak disitasi soal Abraham Accords dalam konteks geopolitik kekinian.)

9. Khalidi, R. (2020). The Hundred Years’ War on Palestine. Metropolitan Books. (Satu abad efek domino dari kolonialisme sampai diplomasi modern.)

10. Tripp, C. (2007). A History of Iraq (3rd ed.). Cambridge University Press. (Konteks bagaimana Sykes-Picot memecah-mecah Mesopotamia menjadi unit politik yang “dapat diatur.”)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan