Narasi Ancaman dan Politik Pembalasan: Bedah Ilmiah Dampak Penembakan National Guard pada Kebijakan Imigrasi AS
![]() |
| Ilustrasi penembakan National Guard (Pic: Grok) |
Imigran dari negara konflik sering direkrut justru karena AS butuh mereka, tetapi setelah itu mereka diperlakukan sebagai potensi ancaman, menghasilkan paradoks “sekutu di perang, tersangka di rumah.”
Penembakan terhadap personel National Guard oleh Rahmanullah Lakanwal memicu respons hiper-reaktif pemerintah AS dalam bentuk pembatasan imigrasi berbasis negara asal.
Tulisan ini membedah fenomena tersebut melalui tiga lensa: (1) politik keamanan domestik, (2) dinamika rekrutmen individu dari negara konflik ke dalam operasi AS, dan (3) pola historis di mana insiden tunggal dipakai sebagai justifikasi kebijakan eksklusioner.
Kasus ini beresonansi dengan sejarah hubungan AS dengan milisi “sekutu sementara,” dari mujahidin Afghanistan era 1980-an hingga konflik kontemporer, meski penyamaan literal dengan figur seperti Osama bin Laden memerlukan kehati-hatian analitik.
Pendahuluan
Wacana keamanan dalam politik Amerika kerap bersifat reaktif dan simbolik. Satu insiden kekerasan dapat mengubah arah kebijakan nasional, apalagi jika pelakunya berasal dari kelompok imigran yang sudah distigmatisasi.
Penembakan National Guard oleh Lakanwal terjadi dalam konteks meningkatnya sentimen anti-imigran, kompetisi pemilu, dan polarisasi ekstrem.
Kasus ini diseret ke ranah politik identitas sebelum penyelidikan kriminal pun rampung.
Status Lakanwal: Dari Mitra Lokal ke Ancaman Domestik
Laporan awal menunjukkan Lakanwal adalah warga Afghanistan yang “pernah bertugas bersama pasukan AS.” Istilah ini biasanya merujuk pada:
a. Mitra Lokal (Local Partner Interpreter/Guide)
AS sering merekrut warga lokal sebagai penerjemah, pemandu, atau staf kontraktor untuk operasi di Afghanistan, Irak, dan wilayah konflik lain.
b. Program Imigrasi Khusus (SIV Program)
Banyak dari mereka diberi jalan menuju green card melalui program Special Immigrant Visa, terutama jika mereka membantu operasi AS selama konflik dan berisiko dibalas oleh kelompok militan.
c. Masalah Integrasi Psikososial
Veteran lokal ini sering mengalami:
• tekanan psikologis akibat perang,
• kesulitan adaptasi setelah relokasi,
• rasa ditinggalkan ketika struktur militer tidak lagi mengelilingi mereka,
• trauma ganda: dulu jadi target Taliban, sekarang distigma di AS.
Dengan kata lain: dia bukan “membelot,” tetapi mungkin mengalami fragmentasi identitas yang akut. Ini skenario yang jauh lebih umum daripada narasi “jadi Osama baru.”
Apakah Ada Pola ‘Osama-isme’?
Perbandingan dengan Osama bin Laden sering muncul di media, tapi:
• Osama adalah hasil state-sponsored militancy era Perang Dingin,
• dia dibiayai, dipersenjatai, dan didorong ideologinya,
• sedangkan Lakanwal adalah produk post-conflict integration failure.
Apakah ada pola umum? Ya, yaitu kegagalan negara adidaya membaca efek jangka panjang dari kebijakannya sendiri.
Apakah keduanya sama? Tidak. Yang satu produk geopolitik global, yang lain produk trauma individu dalam sistem imigrasi.
Respons Pemerintah: Dari Penembakan ke Pelarangan Imigrasi
Trump langsung:
• memerintahkan pemeriksaan ulang green card dari 19 negara “berisiko,”
• mempertimbangkan jeda permanen imigrasi dari negara berkembang.
Ini textbook populisme keamanan: sebuah insiden tunggal dijadikan legitimasi kebijakan luas untuk kelompok yang sudah menjadi target politik.
Masalahnya:
• Collective punishment ini menciptakan bias struktural,
• bukannya mencegah ekstremisme, justru memicu alienasi,
• memperkuat narasi bahwa AS selalu curiga pada “imigran dari selatan dan timur.”
Di sinilah peribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelanga” berubah menjadi kebijakan nasional.
Politik, Media, dan Eksploitasi Ketakutan Publik
Dalam konteks pemilu, insiden seperti ini adalah bahan bakar politik:
• media kanan menjual ketakutan,
• media liberal over-koreksi dengan narasi identitas,
• publik kebingungan di tengah polarisasi.
Hasilnya adalah kebijakan yang bukan dibangun dari data, tapi dari kecemasan kolektif.
Implikasi Geopolitik dan Moral
Mengaitkan kasus ini dengan negara berkembang (Afghanistan, Haiti, Somalia, Venezuela, dll.) bukan hanya tidak akurat, tapi juga mengaburkan fakta bahwa:
• imigran dari negara konflik sering direkrut justru karena AS butuh mereka,
• tetapi setelah itu mereka diperlakukan sebagai potensi ancaman,
• menghasilkan paradoks “sekutu di perang, tersangka di rumah.”
Kasus Lakanwal menunjukkan kegagalan integrasi, bukan ancaman bawaan.
Insiden Lakanwal menggambarkan bagaimana:
1. kekerasan individual bisa membentuk kebijakan struktural raksasa,
2. mitra lokal AS dari zona konflik rentan mengalami dislokasi identitas,
3. politik populis mengubah tragedi menjadi alat kampanye,
4. dan bagaimana ketakutan publik diperkaya oleh warisan panjang intervensi AS di Timur Tengah dan Asia Selatan.
Menyamakannya dengan situasi Osama bin Laden mungkin menggoda secara retoris, tetapi secara teori politik dan keamanan, keduanya berdiri di kategori yang jauh berbeda.
Yang satu fenomena geopolitik global, yang lain tragedi integrasi imigran yang gagal ditangani negara.
Referensi
• Congressional Research Service. (2024). Special Immigrant Visas for Afghan Nationals.
• U.S. Department of State. (2023). Afghan Allies Protection Act: SIV Program Overview.
• Segura, L., & Graham, J. (2022). Challenges of integrating former Afghan interpreters in the U.S. Journal of Migration & Security Studies, 11(2), 145–168.
• Ellis, B. H., et al. (2020). Psychological distress among refugees after military cooperation. American Journal of Orthopsychiatry, 90(5), 606–618.
• Weine, S. (2018). Understanding lone-actor violence among resettled migrants. Studies in Conflict & Terrorism, 41(5), 353–372.
• Coll, S. (2004). Ghost Wars: The Secret History of the CIA, Afghanistan, and bin Laden.
• Bergen, P. (2006). The Osama bin Laden I Know.
• Rashid, A. (2008). Descent into Chaos: The U.S., Pakistan, and Afghanistan.
• Bigo, D. (2020). Migration and the securitization of identity. Security Dialogue, 51(6), 498–515.
• Boswell, C., & Geddes, A. (2021). Migration and Mobility in the Americas.
• Lopez, G., & Bassetti, M. (2023). Immigration politics in the post-Trump era. Brookings Institution Report.
• Chishti, M., et al. (2021). Executive actions on immigration and impact on security policy. Migration Policy Institute.
• Yale, N. (2024). The geopolitics of “high-risk countries” in U.S. immigration vetting. Foreign Affairs, 103(4), 67–79.
• Entman, R. (2004). Projections of Power: Framing News and Democratic Process.
• Esses, V. (2021). Public fear, immigrants, and media narratives. Annual Review of Psychology, 72, 503–531.
• Schmitt, E. (2022). Single-event violence and shifts in homeland security strategy. Journal of Strategic Security, 15(1), 22–45.
• Finnemore, M. (2019). The politics of exceptionalism in U.S. counterterrorism. International Organization, 73(2), 249–278.

Komentar
Posting Komentar