Jatuhnya Assad di Suriah, HTS Kuasai Aleppo, dan Kunjungan Al-Sharaa ke Gedung Putih: Transisi Demokrasi atau Awal Kekacauan Baru?
![]() |
| Ilustrasi Suriah dan kunjungan Al-Sharaa ke Gedung Putih (Pic: Grok) |
Kunjungan Al-Sharaa ke Gedung Putih menunjukkan manuver internasional untuk mengendalikan arah Suriah, bukan jaminan stabilitas
Skenario hipotetis tentang kejatuhan rezim Bashar al-Assad—ditandai oleh melemahnya jaringan keamanan, konsolidasi oposisi Islamis seperti Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) di Aleppo, dan kunjungan diplomatik mengejutkan dari tokoh Suriah Al-Sharaa ke Gedung Putih—menawarkan gambaran kompleks mengenai transisi politik di negara pascakonflik.
Tulisan ini menganalisis dinamika tersebut melalui kerangka teori post-authoritarian transition, state failure, dan power-vacuum analysis, untuk memetakan apakah hal ini menandai “akhir kediktatoran” atau justru “awal chaos baru”.
Pendahuluan
Konflik Suriah selama lebih dari satu dekade memperlihatkan pola pemerintahan otoriter yang bertahan melalui kekuatan militer, dukungan eksternal (Rusia–Iran), dan rekayasa keamanan internal.
Dalam banyak prediksi akademik, kejatuhan Assad bukanlah sekadar runtuhnya rezim, tetapi juga kolapsnya struktur negara.
Narasi hipotetis tentang HTS menguasai Aleppo dan keterlibatan tokoh transisi seperti Al-Sharaa yang kemudian diterima sebagai tamu resmi Gedung Putih melontarkan pertanyaan geopolitik penting:
Apakah dunia akhirnya mendukung transisi politik Suriah, ataukah Barat sedang menyiapkan “soft landing” bagi kekuatan baru yang mungkin sama tidak stabilnya?
Metodologi
Kajian ini menggunakan tiga pendekatan ilmiah:
1. Model Analisis Negara Runtuh (State Collapse Model)
Untuk menilai apakah kejatuhan Assad menghasilkan kekosongan institusi.
2. Teori Transisi Pasca-Otoritarian (Post-Authoritarian Transition Theory)
Untuk melihat peluang hadirnya pemerintahan baru yang legitimate.
3. Matrix Keseimbangan Kekuatan Geopolitik (Regional Power Projection)
Meliputi AS, Rusia, Turki, Iran, dan aktor non-negara seperti HTS.
Kerangka Teoritik & Analisis
1. Kejatuhan Assad: Bukan “akhir perang”, tapi “akhir penahan kekacauan”
Jika Assad tumbang, maka:
• Otoritas pusat runtuh.
• Komando militer tercerai.
• Rusia dan Iran berebut residu pengaruh.
• Oposisi terfragmentasi, yang membuat HTS punya momentum merebut kota utama seperti Aleppo.
Menurut teori authoritarian collapse, rezim otoriter sering runtuh “vertikal”—atas ke bawah—tanpa ada institusi penyangga setelahnya.
Akibatnya: chaos lebih mungkin terjadi daripada transisi demokrasi.
2. HTS Menguasai Aleppo: Meningkatnya “Power Vacuum Islamis”
HTS adalah aktor dengan:
• jaringan militer paling terorganisir,
• kemampuan konsolidasi cepat,
• visi ideologis yang tegas,
• legitimasi di sebagian masyarakat lokal pascablokade.
Namun kontrol HTS atas kota besar seperti Aleppo akan membuat dunia:
• sulit menerima transisi politik sepenuhnya,
• memaksa AS-Turki mengatur ulang strategi,
• mendorong Rusia dan Iran merespons agresif.
Ini bukan tanda stabilitas—ini tanda perebutan legitimasi yang brutal.
3. Kunjungan Al-Sharaa ke Gedung Putih: Dari “Terrorist label” ke “political asset”
Dalam politik internasional: “Siapa musuh, siapa sekutu” itu cair dan bergantung pada konteks kekuasaan.
Jika Al-Sharaa—tokoh Suriah yang dulu dicap ekstremis—diundang ke Gedung Putih, itu bukan rehabilitasi moral, melainkan:
• Legitimasi sebagai aktor transisi
• Upaya AS menciptakan penyeimbang HTS
• Sinyal bahwa Washington ingin mengendalikan arah perubahan
Kedatangan di Gedung Putih berarti:
• ia bukan lagi “terrorist”,
• melainkan calon figur moderat yang dapat dinegosiasi.
Akan tetapi, sejarah Afganistan dan Libya menunjukkan: Ketika Barat terlalu cepat mendukung satu tokoh tanpa fondasi negara yang kuat, hasilnya adalah spiral instabilitas.
Dunia Mendukung Transisi? Ya. Tapi Transisinya ke Mana?
Tanpa institusi negara:
• transisi = fiksi,
• demokrasi = jargon,
• realitas = perebutan kota, minyak, dan legitimasi internasional.
Dunia mungkin “mendukung transisi”, tetapi transisi itu sendiri bisa:
1. melahirkan demokrasi elitis ala Irak pasca-2003, atau
2. memicu perang saudara lanjutan seperti Libya.
Dalam banyak kajian, Suriah lebih mirip opsi kedua.
Dalam skenario geopolitik ini, kejatuhan Assad bukanlah akhir kediktatoran, melainkan buka pintu besar menuju reorganisasi kekuatan.
HTS yang menguasai Aleppo menandai disintegrasi kekuasaan pusat, bukan hadirnya pemerintahan baru.
Kunjungan Al-Sharaa ke Gedung Putih menunjukkan manuver internasional untuk mengendalikan arah Suriah, bukan jaminan stabilitas.
Jadi jawabannya: Ini bukan “akhir dictatorship”.
Ini adalah “awal kontestasi baru” yang mungkin jauh lebih kacau, lebih tajam, dan lebih sulit dihentikan.
REFERENSI
• Geddes, B., Wright, J., & Frantz, E. (2014). Autocratic breakdown and regime transitions: A new data set. Perspectives on Politics, 12(2), 313–331.
• Levitsky, S., & Way, L. (2010). Competitive authoritarianism: Hybrid regimes after the Cold War. Cambridge University Press.
• O’Donnell, G., & Schmitter, P. C. (1986). Transitions from authoritarian rule: Tentative conclusions about uncertain democracies. Johns Hopkins University Press.
• Rotberg, R. I. (Ed.). (2004). When states fail: Causes and consequences. Princeton University Press.
• Fukuyama, F. (2004). State-building: Governance and world order in the 21st century. Cornell University Press.
• Call, C. T. (2008). The fallacy of the ‘failed state’. Third World Quarterly, 29(8), 1491–1507.
• Hinnebusch, R. (2012). Syria: From ‘authoritarian upgrading’ to revolution? International Affairs, 88(1), 95–113.
• Phillips, C. (2016). The battle for Syria: International rivalry in the new Middle East. Yale University Press.
• Zisser, E. (2014). Syria: The long road to civil war. The Middle East Journal, 68(1), 55–68.
• Borshchevskaya, A. (2021). Putin’s war in Syria: Russian foreign policy and the price of America’s absence. I.B. Tauris.
• Goodarzi, J. (2020). Iran and the Syrian civil war. Small Wars & Insurgencies, 31(3), 481–509.
• Al-Tamimi, A. J. (2018). The evolution of Hay’at Tahrir al-Sham. Middle East Institute.
• Lister, C. (2015). The Syrian jihad: Al-Qaeda, the Islamic State and the evolution of an insurgency. Oxford University Press.
• Lund, A. (2016). Syria’s salafi insurgents: The rise of Ahrar al-Sham. Carnegie Middle East Center.
• Barnett, M. (2019). International humanitarianism and the Syrian war. International Affairs, 95(2), 447–466.
• Tabler, A. J. (2011). In the lion’s den: An eyewitness account of Washington’s battle with Syria. Lawrence Hill Books.
• Dawisha, A. (2013). Iraq: A political history from independence to occupation. Princeton University Press.
• Pack, J. (2021). Libya and the global end of the American empire. Manchester University Press.

Komentar
Posting Komentar