Dari ‘Komunis’ ke Konfrontasi Global: Retorika Trump dalam Pemilihan Kota & Dampaknya terhadap Demokrasi dan Hubungan Internasional

Ilustrasi Presiden AS Donald Trump (Pic: Grok)

Ketika sebuah kota lokal jadi medan perang politik identitas, maka tak hanya kursi wali kota yang diperebutkan, tapi arah demokrasi dan narasi global ikut ikut dipertaruhkan


Retorika politik Trump yang menyebut Mamdani “komunis” dan kemudian mengaitkan kemenangan walikota Muslim ini dengan ancaman terhadap kedaulatan nasional menandai babak baru dalam politik identitas Amerika. 


Tulisan ini menggunakan kerangka analisis politik domestik dan global untuk mengurai bagaimana konflik internal AS bocor ke arena diplomasi dan memengaruhi persepsi luar negeri — termasuk kebijakan terhadap Timur Tengah dan Afrika.



Pendahuluan


Pada 4 November 2025, Zohran Mamdani terpilih sebagai walikota kota terbesar AS, yang kemudian memicu reaksi tajam dari Trump. 


Trump menyebutnya “komunis,” mengancam pemotongan dana federal ke kota New York jika kebijakan Mamdani diterapkan.  


Retorika ini bukan hanya soal persaingan politik domestik, tapi juga sinyal geopolitik: bagaimana AS melihat “kiri progresif + Islam” sebagai ancaman terhadap narasi keamanan dan hegemoninya.



Metodologi


Analisis wacana terhadap pidato Trump dan media AS yang meliput.

Studi komparatif: bagaimana isu politik kota besar AS memengaruhi kebijakan luar negeri AS.

Teori identitas politik dan representasi dalam demokrasi (kiri-kanan, demokrasi liberal vs sosialisme).



Kajian Teoretik


Politik Identitas & Polarisasi (Fukuyama, 2018): Kemenangan Mamdani menunjukkan bahwa identitas agama, generasi muda, dan kelas pekerja menjadi pusat konflik naratif dalam demokrasi liberal.


Populisme Kanan & Krisis Demokrasi (Mudde, 2004): Trump menggunakan retorika ekstrem untuk memobilisasi basis politiknya dengan menakut-nakuti “komunisme” dan “globalisme”.


Diplomasi Publik & Soft Power: Konflik domestik AS berdampak ke persepsi global, khususnya mengenai isu kebijakan luar negeri (contoh: Gaza) yang sering dianggap bias atau selektif.



Analisis dan Diskusi


1. Retorika “Komunis” sebagai Alat Legitimasi


Trump menyebut Mamdani “komunis” dan kota New York akan “kehilangan kedaulatan” jika dipimpin olehnya.  


Retorika ini:

Mengonstruksi narasi musuh politik internal.

Menstigmatisasikan progresivisme dan gerakan kiri sebagai ancaman ideologis.

Mempersiapkan basis politik untuk kebijakan pembatasan dana federal dan pengawasan pusat.


2. Dampak ke Kebijakan Luar Negeri


Ketegangan di dalam negeri AS bocor ke panggung global: kritik terhadap Israel, Gaza, dan Islam menjadi bagian dari narasi broader bahwa AS “memihak” terhadap umat Kristen atau anti-Islam karena identitas pemimpin kota besar.


Kasus ini memperkuat persepsi bahwa kebijakan luar negeri AS dipengaruhi oleh kalkulasi identitas dan politik domestik, bukan hanya nilai universal.


3. Identitas Muslim & Kelas dalam Politik Kota


Kemenangan Mamdani sebagai walikota Muslim pertama New York menandai perubahan identitas politik kota besar AS — dari elite tradisional ke representasi kelas pekerja & minoritas. 


Trump tampak merespons dengan ofensif yang memperlihatkan ketakutan terhadap pergeseran ini.


4. Demokrasi Lokal sebagai Barometer Nasional


Pilihan kota New York bukan hanya soal lokal. Trump menyebut kemenangan tersebut sebagai cerminan arah politik nasional—“pilihan antara komunisme dan akal sehat”.  


Ini menunjukkan bahwa perubahan di kota besar bisa jadi latar utama bagi konflik ideologis yang lebih luas.



Retorika Trump tidak hanya menyerang lawan politiknya, tapi mencerminkan strategi untuk mempertahankan dominasi narasi — bahwa politik AS harus tetap “otentik” menurut versi dia: nasionalistik, anti-komunis, dan berbasis identitas tradisional.


Kemenangan Mamdani dan respons keras Trump mengungkap bahwa demokrasi besar seperti AS tak kebal terhadap pergeseran identitas dan politik globalisasi. 


Jika identitas minoritas sekaligus progresif mulai memimpin kota terbesar, maka arah demokrasi dan kebijakan luar negeri AS akan diuji ulang.









Referensi

The Guardian. (2025, November 5). Trump slams NYC mayor-elect: ‘It’s common sense or communism’.  

Time. (2025, ????). Trump Calls Mamdani a ‘Communist Lunatic’ a Day After NYC Primary Upset.  

NDTV. (2025, November 6). Trump says America Lost Little Sovereignty After Mamdani’s New York Win.  

Mudde, C. (2004). The Populist Zeitgeist. Government and Opposition, 39(4), 541–563.

Fukuyama, F. (2018). Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment. Farrar, Straus and Giroux.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan