CERPEN: “Yang Paling Susah Dikalahkan”
![]() |
| Yang Paling Susah Dikalahkan (Pic: Grok) |
Cinta itu datang seperti maling: diam-diam dan kebangetan
Namanya Rendra.
Tiap kali buka mulut, dunia seperti siap perang. Sarkasmenya tajam, bahkan senyum orang lain bisa ia potong dengan kalimat sinis yang tepat sasaran.
Ia seperti punya radar untuk mendeteksi kelemahan orang dan menjadikannya bahan olok-olok paling efisien di ruangan.
Kepala batu.
Kalau dia bilang langit hijau, jangan harap kamu bisa membuktikan birunya tanpa debat dua jam dulu.
Orang bilang dia nyebelin. Aku setuju.
Tapi yang lucu, orang-orang tetap bertahan di dekatnya. Mungkin karena di balik tajamnya mulut, ada sesuatu yang bikin penasaran—semacam bara kecil yang belum padam.
******
Sampai suatu hari, ia bertemu dengan Nara.
Gadis itu aneh. Bukan karena cantiknya, tapi karena ia tidak takut pada Rendra.
Ketika Rendra nyeletuk, “Lucu juga, ya, kamu ngotot padahal jelas salah,”
Nara cuma menjawab, “Lucu juga, ya, kamu takut kalah dari perempuan.”
Dan untuk pertama kalinya, Rendra kehabisan kata.
+++++
Hari demi hari, sarkasmenya mulai kehilangan tenaga. Setiap kali berusaha nyeplos pedas, entah kenapa nada suaranya berubah jadi lembut di hadapan Nara.
Ia masih berusaha keras tampil keras kepala, tapi sorot matanya sudah tidak bisa menipu siapa pun.
Cinta itu datang seperti maling: diam-diam dan kebangetan.
Rendra yang dulu bisa debat sama bayangannya sendiri, kini malah bingung menjelaskan kenapa jantungnya berdebar tiap Nara memanggil namanya.
Ia mulai melakukan hal-hal konyol: nunggu chat dibalas, pura-pura cuek padahal refresh tiap lima detik, dan tiba-tiba jadi ahli membaca emoji.
Teman-temannya kaget.
“Rendra? Romantis? Gak lucu, bro.”
Tapi nyatanya, cowok itu sekarang sering kelihatan nulis catatan kecil di ponsel: kalimat lembut yang tidak pernah dia tunjukkan ke siapa pun, kecuali ke satu orang.
Di depan Nara, si mulut pedas itu berubah jadi lelaki yang mendengarkan. Yang belajar menahan ego, dan untuk pertama kalinya mengerti bahwa kalah dari cinta bukanlah kekalahan, tapi bentuk kemenangan paling manusiawi.
Dan setiap kali Nara tersenyum, Rendra selalu berpikir:
“Kalau cinta bisa menjinakkan aku, berarti Tuhan memang tahu caranya mengerjai manusia dengan cara paling manis.”

Komentar
Posting Komentar