Damai Tanpa Palestina: Ketika Abraham Accords Membungkam yang Terluka
![]() |
| Ilustrasi Abraham Accords (Pic: Grok) |
Ketika pihak yang paling menderita—rakyat Palestina—tidak dilibatkan, maka perjanjian ini hanyalah panggung kepentingan global
Abraham Accords yang diperkenalkan oleh Amerika Serikat pada 2020 membawa janji “perdamaian baru” antara Israel dan sejumlah negara Arab.
Kesepakatan ini disambut sorak oleh banyak pemimpin dunia, namun menjadi luka yang menganga bagi rakyat Palestina.
Mengusung normalisasi hubungan diplomatik, perjanjian ini tak sedikit pun melibatkan Palestina sebagai pihak yang terdampak langsung dari konflik panjang.
Lantas, bisakah perdamaian tercipta jika yang tertindas tak diberi suara?
Isi dan Tujuan Abraham Accords
Abraham Accords adalah perjanjian antara Israel dengan UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko, difasilitasi oleh Amerika Serikat.
Tujuan utamanya adalah menormalisasi hubungan diplomatik, memperkuat kerja sama ekonomi, teknologi, dan militer.
Namun, yang mencolok dari kesepakatan ini adalah absennya tuntutan konkret terhadap Israel untuk menghentikan pendudukan wilayah Palestina atau menghormati hak-hak asasi rakyat Palestina.
Mengabaikan Palestina Secara Sistemik
Keempat negara penandatangan Abraham Accords sama sekali tidak mewakili suara Palestina.
Normalisasi ini memberikan legitimasi kepada Israel tanpa syarat, padahal praktik apartheid, blokade Gaza, dan ekspansi permukiman ilegal terus berlangsung.
Bahkan dalam isi perjanjian, tidak ada keharusan bagi Israel untuk tunduk pada resolusi PBB terkait Palestina (Zunes, 2020).
Kepentingan Geopolitik dan Ekonomi
AS dan Israel memiliki kepentingan besar: menciptakan blok anti-Iran di kawasan serta membuka jalur pasar dan militer baru.
Negara-negara Arab yang terlibat pun mendapatkan kompensasi, seperti pengakuan kedaulatan atas wilayah sengketa atau akses senjata canggih, seperti yang terjadi pada Maroko dan UEA (Lynch, 2021).
Ini menunjukkan bahwa yang dijual bukan hanya prinsip, tapi juga nasib Palestina.
Reaksi Dunia dan Palestina
Rakyat Palestina mengecam perjanjian ini sebagai “pengkhianatan” yang menormalisasi penjajahan.
Pemimpin Palestina dari Fatah maupun Hamas menyatakan bahwa kesepakatan ini adalah bentuk pengabaian terhadap perjuangan mereka.
Meski demikian, tekanan internasional untuk mengubah isi perjanjian atau menghentikan ekspansi Israel nyaris nihil.
Abraham Accords adalah bentuk baru kolonialisme diplomatik yang merayakan perdamaian semu.
Ketika pihak yang paling menderita—rakyat Palestina—tidak dilibatkan, maka perjanjian ini hanyalah panggung kepentingan global yang membungkam jeritan dari tanah yang dijajah.
Jika dunia ingin benar-benar bicara damai, maka suara Palestina tak boleh terus dipinggirkan.
Referensi
• Lynch, M. (2021). The New Arab Order: Power and Violence in the Middle East. Columbia University Press.
• Zunes, S. (2020). “The Abraham Accords and the Betrayal of the Palestinians.” Foreign Policy in Focus.
• United Nations. (2021). The Question of Palestine and the United Nations. https://www.un.org/unispal/

Komentar
Posting Komentar