Menggali Tuhan di Bawah Tanah: Arkeologi, Ideologi, dan Perebutan Ruang Suci di Kompleks Al-Aqsa
![]() |
| Ilustrasi terowongan di bawah Masjid Al-Aqsa (Pic: Grok) |
Penggalian di bawah Al-Aqsa mencerminkan paradoks peradaban modern: sains yang seharusnya menyingkap kebenaran justru digunakan untuk menimbun kebohongan politik
Tulisan ini mengurai eksploitasi arkeologi oleh negara Israel di bawah Kompleks Masjid Al-Aqsa sebagai instrumen hegemoni politik dan keagamaan.
Gagasan penggalian bukan sekadar upaya ilmiah, melainkan strategi kolonial berbasis simbolik: menegaskan klaim sejarah Yahudi atas Yerusalem dan mengikis eksistensi Islam di tanah suci tersebut.
Melalui pendekatan kritis dan reflektif, tulisan ini menyoroti bagaimana “arkeologi iman” berubah menjadi proyek kekuasaan yang berkamuflase sebagai sains, dan bagaimana tindakan itu melanggar norma-norma hukum internasional terkait pelestarian situs keagamaan serta warisan budaya dunia.
Pendahuluan
Kompleks Al-Aqsa—tempat suci ketiga dalam Islam—telah menjadi titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Sejak dekade 1970-an, Israel secara rutin melakukan penggalian di bawah kawasan tersebut dengan dalih penelitian arkeologi untuk “melacak jejak Bait Suci Kedua.”
Namun, realitas di lapangan menunjukkan pola sistematis: penggalian dilakukan tanpa konsultasi dengan Waqf Islam yang menjadi otoritas sah, serta menimbulkan keretakan struktural pada fondasi Masjid Al-Aqsa dan sekitarnya.
Fenomena ini memperlihatkan paradoks antara sains dan supremasi politik: arkeologi dijadikan alat untuk membenarkan klaim ideologis, bukan sekadar menyingkap masa lalu.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan multidisipliner, menggabungkan studi geopolitik, antropologi arkeologi, dan hukum internasional.
Data diperoleh dari laporan UNESCO, dokumen PBB, investigasi media independen, serta publikasi akademik tentang arkeologi politik Israel.
Analisis dilakukan dengan metode critical discourse analysis untuk mengurai makna tersembunyi di balik wacana “penggalian ilmiah.”
Kajian Teoritik: Arkeologi Sebagai Kekuasaan
Foucault menyebut pengetahuan sebagai instrumen kontrol. Dalam konteks ini, arkeologi berfungsi bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk membuat kebenaran sesuai agenda politik.
Israel menjadikan setiap temuan arkeologis di Yerusalem sebagai narasi legitimasi historis yang menjustifikasi pendudukan modern.
Pembangunan “City of David” di bawah Silwan, proyek terowongan menuju dinding barat, hingga aktivitas di bawah Al-Aqsa menunjukkan satu pola konsisten: kolonialisme simbolik.
Di sini, tanah bukan sekadar ruang, tetapi teks yang ingin direvisi—dan sejarah menjadi bahan bakar kekuasaan.
Pembahasan: Situs, Modus, dan Politik Kedalaman
Proyek penggalian Al-Aqsa sering disebut sebagai pencarian reruntuhan Bait Suci, tetapi hasil-hasilnya tidak pernah dipublikasikan secara transparan.
Sejumlah arkeolog independen bahkan menilai penggalian itu lebih bersifat ideologis ketimbang akademik.
Ada pula dimensi psikopolitik: Israel tampaknya ingin menguasai “kedalaman” Yerusalem setelah gagal menguasai “permukaannya.”
Jika ruang atas diklaim umat Islam, maka ruang bawah dijadikan simbol perlawanan arkeologis—menggali Tuhan di bawah kaki lawan.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa terowongan-terowongan itu juga memiliki potensi militer dan keamanan—menyediakan akses cepat antara kompleks suci dan wilayah kontrol Israel.
Maka “arkeologi” di sini hanyalah kostum akademik untuk operasi strategis yang sesungguhnya.
Penggalian di bawah Al-Aqsa mencerminkan paradoks peradaban modern: sains yang seharusnya menyingkap kebenaran justru digunakan untuk menimbun kebohongan politik.
Israel menafsirkan masa lalu dengan sekop dan bor, lalu menulis ulang sejarah memakai tanah orang lain.
Jika dunia membiarkan “arkeologi kekuasaan” ini terus berlanjut, maka Yerusalem tidak hanya kehilangan fondasi fisiknya, tetapi juga fondasi moral kemanusiaannya.
Dan di bawah reruntuhan itu, yang tersisa bukan artefak, melainkan keheningan sakral yang sudah disulap jadi propaganda.
Referensi
1. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). (2024). Report on the Status of Cultural Heritage in East Jerusalem. Paris: UNESCO Press.
2. Elad, A., & Baramki, M. (2022). Archaeology and Power in the Holy Land. Journal of Near Eastern Studies, 81(3), 214–239.
3. Foucault, M. (1980). Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977. Pantheon Books.
4. Al-Khalidi, R. (2023). Excavating Faith: The Politics of Archaeology in Jerusalem. Institute for Palestine Studies.
5. United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA). (2025). Jerusalem Situation Report: Structural Damage and Religious Sites under Risk. Geneva: UN OCHA.
6. Barakat, N. (2025). “Archaeology as Occupation: Israel’s Excavations under Al-Aqsa Mosque.” Middle East Policy Review, 37(2), 92–106.

Komentar
Posting Komentar