Krisis Legitimasi Liberalisme & Munculnya “Angin Baru” Komunisme dalam Politik Global
![]() |
| Ilustrasi negara-negara liberal vs negara-negara komunis (Pic: Grok) |
Liberalisme gagal konsisten, komunisme memanfaatkan celah. Namun, dunia tidak serta-merta akan berpaling ke komunisme, karena rekam jejak otoritarianisme tetap menjadi beban besar
Ketegangan geopolitik global antara Barat dan blok non-Barat, terutama terkait konflik Gaza, memunculkan persepsi bahwa komunisme atau sosialisme ala China kembali mendapat ruang dalam wacana politik global.
Hal ini bukan karena ideologi tersebut lebih unggul secara substansi, tetapi karena liberalisme—yang dijalankan negara-negara Barat—gagal konsisten terhadap nilai-nilai yang mereka agungkan sendiri.
Tulisan ini menegaskan bahwa “angin segar” komunisme lebih bersifat geopolitik dan retorika ketimbang keunggulan ideologis sejati.
Pendahuluan
Setelah Perang Dingin, liberalisme dianggap pemenang sejarah. Namun, dua dekade terakhir memperlihatkan keletihan dan kontradiksi serius:
• Invasi sepihak (Irak, Afghanistan).
• Dukungan terhadap Israel meski melanggar hukum internasional.
• Standar ganda dalam isu HAM.
Di ruang kosong inilah, komunisme/sosialisme gaya baru (China, Rusia, Kuba, dll.) tampil bukan sebagai model universal, melainkan alat politis untuk menantang dominasi Barat.
Metodologi
Pendekatan yang digunakan adalah analisis politik komparatif dengan fokus pada wacana ideologi, legitimasi politik, serta dampaknya terhadap Global South.
Pembahasan
1. Liberalism in Crisis: Antara Ide dan Praktik
• Secara ide: liberalisme menjanjikan kebebasan, demokrasi, HAM.
• Secara praktik: liberalisme negara Barat penuh kontradiksi—Israel didukung meski melanggar HAM, sementara lawan politik Barat cepat dicap diktator.
• Akibatnya, publik global mengidentifikasi liberalisme = kemunafikan, padahal masalahnya ada pada aktor, bukan ideologinya.
2. Komunisme Mendapat “Angin Politik”
• China tampil dengan wacana “kedaulatan nasional” dan multipolarisme.
• Rusia membawa narasi “anti-hegemoni” dan perlawanan terhadap standar ganda Barat.
• Negara-negara berkembang melihat alternatif ini lebih membumi, karena dikaitkan dengan bantuan infrastruktur, investasi, dan perlawanan terhadap intervensi asing.
3. Paradox of Communism’s Appeal
Namun, kebangkitan komunisme bukan tanpa masalah:
• Rekor HAM China (Xinjiang, Tibet, represi internet).
• Otoritarianisme: tak ada kebebasan politik yang setara dengan janji HAM liberal.
• Ekonomi: model China pragmatis (kapitalisme negara), bukan komunisme murni.
Artinya, komunisme yang tampak “naik pamor” bukan karena substansi ideologinya lebih unggul, tetapi karena liberalisme sedang jatuh citra.
4. Global South as Kingmaker
Negara-negara berkembang kini menjadi medan perebutan legitimasi ideologi. Mereka realistis: tidak buta pada represi ala China, tapi juga muak dengan kemunafikan Barat. Di sinilah terbentuk politik “pilih yang lebih sedikit mudaratnya.”
Fenomena “komunisme dapat angin” lebih tepat dipahami sebagai krisis legitimasi liberalisme ketimbang kemenangan ideologi komunis.
Liberalisme gagal konsisten, komunisme memanfaatkan celah. Namun, dunia tidak serta-merta akan berpaling ke komunisme, karena rekam jejak otoritarianisme tetap menjadi beban besar.
Maka, kunci masa depan ideologi global bukan di tangan siapa yang paling keras berteriak, tetapi siapa yang paling konsisten membuktikan antara nilai dan praktik nyata.
Referensi
• Acharya, A. (2017). After liberal hegemony: The advent of a multipolar order. Ethics & International Affairs, 31(3), 271–285.
• Ikenberry, G. J. (2018). The end of liberal international order?. International Affairs, 94(1), 7–23.
• Nye, J. S. (2020). Do morals matter? Presidents and foreign policy from FDR to Trump. Oxford University Press.
• AP News. (2025, September 4). In UN speech, Beijing makes clear its intent to remold global norms.
• The Guardian. (2025, September 4). China flexes its muscle in the tussle for global dominance.

Komentar
Posting Komentar