Sumpah Pemuda vs Sukuisme Bahasa: Ketegangan Antara Bahasa Persatuan dan Kebanggaan Lokal di Era 28 Oktober 2025

Ilustrasi Hari Sumpah Pemuda (Pic: Grok)

Jika setiap suku merasa bahwa bahasa mereka adalah “bahasa utama” dan Bahasa Indonesia hanyalah “tambahan”, maka persatuan tetap goyah


Perayaan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menyiratkan semangat persatuan melalui ikrar “satu bahasa, satu tanah air, satu bangsa”. 


Namun realitas sosio-kultural Indonesia memperlihatkan konflik laten antara bahasa persatuan (Bahasa Indonesia) dan identitas lokal (bahasa daerah). 


Tulisan ini menganalisis bagaimana kebanggaan terhadap bahasa daerah, sukuisme, dan diversitas etnis kadang bertabrakan dengan prinsip persatuan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda. 


Pendekatan teori identitas sosial dan nasionalisme budaya digunakan untuk menelaah ambivalensi antara “merayakan pluralitas” dan “mengutamakan bahasa persatuan”.



Pendahuluan


Sumpah Pemuda (1928) diawali dengan ikrar: “Kami putra dan putri Indonesia … menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”  


Bahasa Indonesia dipilih sebagai simbol pemersatu bangsa Nusantara yang sangat plural.  


Saat ini, meskipun Bahasa Indonesia dikuatkan secara nasional, fenomena kebanggaan bahasa daerah dan sukuisme tetap kuat — menimbulkan dilema: bagaimana menangani identitas lokal tanpa mengganggu persatuan nasional?



Metodologi


Kajian literatur dari sejarah Sumpah Pemuda dan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.  


Analisis sosiologis: teori identitas sosial (Tajfel & Turner) dan nasionalisme budaya (Anderson).


Observasi fenomena kontemporer: kebanggaan bahasa daerah vs implementasi Bahasa Indonesia dalam pendidikan dan pemerintahan.



Analisis


1. Dualitas Bahasa Persatuan dan Identitas Lokal


Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai simbol kebangsaan sekaligus alat pemersatu. Namun banyak suku merasa bahwa Bahasa Indonesia belum cukup ‘mewakili’ identitas mereka — ini bisa menumbuhkan sikap bahwa “bahasa saya duluan” daripada “bahasa Indonesia duluan”.


2. Sukuisme Bahasa sebagai Tantangan Persatuan


Ketika seseorang lebih cinta bahasa daerahnya daripada Bahasa Indonesia, ini bukan sekadar soal linguistik — melainkan soal ketidakadilan budaya, ekonomi, dan politik. 


Informasi, sumber daya, dan kesempatan sering terasa lebih banyak untuk mereka yang menguasai Bahasa Indonesia.


3. Impak Terhadap Nilai Sumpah Pemuda


Ikrar Sumpah Pemuda menegaskan bahasa persatuan sebagai fondasi bangsa. Ketika bahasa persatuan tidak diinternalisasi secara merata atau dianggap subordinat terhadap identitas lokal, maka janji Sumpah Pemuda bisa menjadi simbol kosong.


4. Rekomendasi Kebijakan


Penguatan pembelajaran dua bahasa: Bahasa Indonesia sebagai lingua franca nasional + bahasa daerah sebagai identitas lokal.


Pemerataan akses pendidikan dan media dalam Bahasa Indonesia tanpa mengabaikan bahasa daerah.


Kampanye nasional yang mengaitkan Bahasa Indonesia dengan kebanggaan lokal, bukan penghapus identitas.



Sumpah Pemuda adalah janji besar: satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. 


Tapi janji itu hanya bisa terwujud jika bahasa persatuan bukan dipaksakan tapi dimiliki bersama — dalam makna dan praktik. 


Jika setiap suku merasa bahwa bahasa mereka adalah “bahasa utama” dan Bahasa Indonesia hanyalah “tambahan”, maka persatuan tetap goyah.


“Menghargai bahasa daerah bukanlah mengabaikan bangsa — tapi membiarkannya tumbuh dalam harmoni, bukan dalam persaingan yang memecah.”








Referensi:

Gramedia. (n.d.). Sejarah Sumpah Pemuda (27-28 Oktober 1928): Makna, Isi, Struktur Panitia dan Tokohnya.

Detikcom. (n.d.). 6 Fakta tentang Sumpah Pemuda.

Museum Sumpah Pemuda via Bakesbang Lamongan. (n.d.). Sejarah Sumpah Pemuda dan Maknanya.

―. (n.d.). Sejarah Bahasa Indonesia: “Menilik Sejarah Bahasa Indonesia”. Diakses dari turn0search27.

―. (n.d.). Sumpah Pemuda Merupakan Cikal Bakal Tercetusnya Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Persatuan 1928-1954 (Suatu Tinjauan Historis). Jurnal UM-Palembang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan