Gencatan Semu di Gaza: Serangan Balasan Israel di Rafah dan Ujian Kesejatian Perdamaian – Oktober 2025

Ilustrasi kondisi Gaza (Pic: Grok)


Bukan hanya potensi pecahnya truce, tetapi ketidakmampuan dunia untuk memastikan perlindungan warga sipil dan akses kemanusiaan yang bebas dari tekanan militer


Gencatan senjata yang diberlakukan pada awal Oktober 2025 antara Israel Defense Forces (IDF) dan Hamas di Gaza dipuji sebagai langkah menuju perdamaian. 


Namun peristiwa di Rafah pada 19-20 Oktober — di mana Israel melakukan serangan udara sebagai respons atas klaim bahwa militan Hamas menembak pasukan Israel melewati “garis kuning” — menandai kerentanan struktural kesepakatan tersebut. 


Tulisan ini menelaah dinamika kekerasan ulang yang mengancam stabilitas truce, termasuk implikasi kemanusiaan, kebijakan buka-tutup perbatasan, dan narasi legitimasi militer dalam kondisi gencatan.



Pendahuluan


Kesepakatan gencatan diteken sebagai momen harapan setelah dua tahun perang, dengan rencana pemulihan, pembebasan tahanan, dan bantuan kemanusiaan diperluas.


Rafah — yang selama perang menjadi salah satu titik paling sensitif — kembali menjadi titik api ketika IDF melancarkan serangan udara setelah menyebut bahwa pasukan Hamas atau militan menembak anti-tank dari kawasan tersebut.  


Masalah “garis kuning” atau yellow line yaitu garis mundur atau pembatas militer yang disebut oleh IDF sebagai bagian dari perjanjian, namun yang secara praktis belum jelas ditandai di lapangan.  


Penutupan kembali perbatasan Rafah oleh Israel sebagai bagian ultimatum terhadap Hamas memperparah akses bantuan kemanusiaan dan meningkatkan risiko rakyat sipil menjadi korban.  



Metodologi


Analisis berbasis laporan media internasional (Reuters, The Guardian, Al Jazeera) yang melaporkan peristiwa Rafah dan pelanggaran gencatan.  

Kerangka teoretik: konsep negative peace vs positive peace dari Johan Galtung, dan teori legitimasi kekerasan militer dari studi hubungan internasional.

Fokus kasus: serangan Rafah 19-20 Oktober 2025, dampak terhadap gencatan, dan kaitannya dengan perbatasan Rafah yang kembali ditutup.



Analisis


1. Ujian Truce di Rafah


Serangan udara oleh Israel di Rafah dilaporkan sebagai respons atas klaim militan Hamas menembak. IDF menyebut bahwa ini “pelanggaran gencatan” dan akan ditanggapi secara keras.  


Namun narasi penembakan oleh Hamas diperdebatkan—Hamas sendiri menyangkal keterlibatan langsung. 


Kondisi ini menunjukkan bahwa gencatan tetap rapuh ketika “pelaku” atau zona konflik tidak jelas.


2. Perbatasan dan Akses Bantuan


Penutupan kembali perbatasan Rafah oleh Israel sebagai bargaining chip terhadap Hamas (tuntutan serah jenazah hostages) memperlihatkan bagaimana elemen kemanusiaan dijadikan alat tekanan militer.  


Bantuan kemanusiaan yang terhambat memperkuat kondisi kerentanan warga sipil, sehingga gencatan hanya sebatas penghentian tembakan, bukan penghentian penderitaan.


3. Kekerasan Struktural dalam Gencatan


Gencatan tanpa mekanisme pengawasan independen dan garis militer fisik (garis kuning) menciptakan kondisi di mana pihak militer bisa menerjemahkan “pelanggaran” secara sepihak. Ini merusak premis keadilan yang seharusnya mengiringi perdamaian.



Gencatan senjata bukanlah jaminan perdamaian, tetapi jeda dalam konflik yang belum diakhiri secara struktural. 


Rafah menjadi simbol dari kondisi itu: bukan hanya potensi pecahnya truce, tetapi ketidakmampuan dunia untuk memastikan perlindungan warga sipil dan akses kemanusiaan yang bebas dari tekanan militer.


Jika aspek-aspek kerangka keamanan, pengawasan pihak ketiga, dan akses kemanusiaan tidak dijamin, maka truce tetap berada di ambang kehancuran — bukan karena “kesalahan satu pihak” saja, tetapi karena struktur kekuasaan yang tidak berubah.







Referensi

Reuters. (2025, October 19). Israel strikes Gaza, accuses Hamas of attacks in gravest test of truce so far.  

The Guardian. (2025, October 19). Israel launches airstrikes on Rafah as Gaza ceasefire deal comes under threat.  

The Guardian. (2025, October 18). Israel has violated ceasefire 47 times and killed 38 Palestinians, says Gaza media office.  

Reuters. (2025, October 18). Israel to keep border crossing closed as it trades accusations of ceasefire violation with Hamas.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan