Menyelami Filsafat Kekinian Bersama Dr. Slamet Hendro Kusumo : Refleksi dari Kelas di Omah Budaya Slamet OBS
Oleh ; Akaha Taufan Aminudin
SATUPENA JAWA TIMUR, Minggu Pahing cerah di Omah Budaya Slamet OBS, pertemuan kelima kelas filsafat menghadirkan diskusi mendalam yang mengangkat relevansi filsafat dalam kehidupan modern. Dr. Slamet Hendro Kusumo, dengan gaya santai namun penuh wawasan, membimbing mahasiswa dan peserta dari berbagai latar belakang untuk memahami konsep-konsep abadi seperti akal, metafisik, antropologi, hingga hubungan manusia dengan Tuhan. Artikel ini mengajak pembaca merenungi kembali hakekat eksistensi manusia, logika, dan spiritualitas di era kekinian, sekaligus menunjukkan betapa filsafat tidak pernah kehilangan pesonanya untuk dicermati dan diaplikasikan.
Memulai Perjalanan Filsafat di Tengah Keriuhan Zaman
Bayangkan sebuah rumah budaya yang rindang di Beru Bumiaji kota Batu, Jawa Timur, menjadi saksi bisu sebuah perjumpaan intelektual yang sarat makna. Di sinilah, Omah Budaya Slamet OBS, para pencinta filsafat berkumpul—tak sekadar berpikir abstrak, tetapi menyelami inti kehidupannya. Minggu Pahing 12 Oktober 2025 menjadi saksi pertemuan kelima kelas filsafat yang dipandu oleh Dr. Slamet Hendro Kusumo, sosok yang tidak hanya akademisi tapi juga seorang penulis dan Perupa dalam bahasa pemikiran.
Kehadiran mahasiswa Unesa Surabaya yang tengah magang menambah warna diskusi, diperkuat oleh anggota lama seperti Gotro, Gatot, Saiqu, Moch. Sofyan, Ingit Mreta Claritas S.Pd, M.Pd. hingga peserta baru Saiqu Gandon, Hindung Perupa, Chelsea yang berlatar sarjana psikologi. Dari interaksi yang hidup hingga diskusi mendalam soal filsafat kekinian, suasana itu menawarkan lebih dari sekadar pelajaran, melainkan arena refleksi.
Filsafat Kekinian: Akal dan Metafisik dalam Kehidupan Nyata
Salah satu inti pembahasan adalah hubungan antara akal dan metafisik—dua kutub yang selama ini kita jaga seolah terpisah, padahal keduanya saling melengkapi dalam memahami dunia. Dr. Slamet Henkus menegaskan bahwa masalah masyarakat seringkali muncul dari ketidaktahuan akan hakekat benda dan roh, atau dalam bahasa filsafat, material dan imaterial. Bayangkan, tanpa memahami ini, kita seperti kapal yang berlayar tanpa kompas—berofolusi kesana kemari tanpa tujuan.
Menariknya, skeptisisme menjadi pintu masuk untuk menguji kebenaran dan hakekat benda. Konsep ini membawa kita pada dasar pemahaman yang kritis, tanpa harus menolak hakikat eksistensi itu sendiri. Selain itu, Dr. Slamet Henkus juga merujuk fenomena pasang surut air laut dan astronomi sebagai contoh realitas konkret yang dapat dipahami melalui filsafat dan ilmu pengetahuan.
Antropologi Filsafat dan Pencarian Kebahagiaan Manusia
Dalam dialog yang hangat, diperbincangkan pula hakekat manusia dari sudut pandang antropologi filsafat. Bahwa manusia tidak semata materi biologis, tetapi juga subjek pengalaman, termasuk pencarian kepuasan dan kebahagiaan. Filsafat terbaru yang disebut naturalisme baru menyoroti kesatuan materi dan roh, mengintegrasikan pandangan Tuhan sebagai pencipta alam semesta—jagad gede—dalam konsep monoteisme atau berbagai ragam politeisme yang tersebar berdasarkan tradisi dan geografis masyarakat.
Salah satu kalimat yang menggetarkan adalah ‘Manunggal Kawulo Gusti’—Tuhan itu aku, yang menyiratkan kesadaran diri sebagai bagian dari realitas ilahi. Konsep ini mengajak kita merenungkan bahwa Tuhan bukan hanya entitas luar, tapi hadir di dalam diri tiap individu dan alam semesta.
Logika dan Dialektika: Menanam Benih Berpikir Kritis
Filsafat juga membahas soal logika, cabang ilmu yang harus dibangun atas dasar nyata dan konvensi yang dapat diterima bersama. Dr. Slamet Henkus menjelaskan bagaimana kesimpulan yang benar dan tepat berakar pada pola dialektika—seni dialog dan pertukaran argumen yang membangun. Contohnya sederhana namun kaya makna: "Apa hakekat kursi?" Bukannya hanya benda tempat duduk, kursi pun memiliki fungsi dan esensi yang menjembatani gagasan abstrak dan kenyataan.
Pembelajaran seperti ini bukan hanya mengasah kemampuan berargumen, tapi juga membuka wawasan untuk memahami dunia dan dirinya secara lebih utuh.
Dialog Interaktif, Harmoni Pemikiran, dan Kearifan Lokal
Salah satu kelebihan kelas ini adalah dialog interaktif yang melibatkan peserta aktif, seperti Hendung, Saiqu Gandon, Chelsea yang berlatar sarjana psikologi, menghadirkan pertanyaan dan gagasan dari perspektif ilmu sosial. Bersama, mereka menggali hubungan antara filsafat, antropologi, bahkan lembaga adat desa yang diyakini mampu menyelesaikan persoalan manusia secara holistik—mencapai kesejahteraan yang tidak hanya bahagia, tapi juga tentrem.
Pembahasan ini menegaskan pentingnya kearifan lokal dan tradisi sebagai bagian integral dari refleksi filsafat, menunjukkan bahwa peradaban masa kini tetap harus berdialog dengan akar budaya untuk meresapi makna kehidupan.
Filsafat sebagai Peta dan Kompas di Era Kekinian
Kegiatan kelas filsafat di Omah Budaya Slamet OBS menawarkan lebih dari sekadar pembelajaran akademis. Ia menjadi ruang untuk mengasah kesadaran, membuka dialog antar ilmu dan budaya, serta menggugah rasa ingin tahu yang terus berdenyut.
Seperti kata Dr. Slamet Hendro Kusumo, filsafat kekinian mengajak kita untuk tidak berhenti bertanya dan meraba hakekat kehidupan, dari akal dan metafisik, hingga hubungan kita dengan Tuhan dan dunia. Karena pada akhirnya, hidup adalah perpaduan antara logika, intuisi, dan spiritualitas yang harmoni.
Inti utama filsafat kekinian menurut Dr. Slamet Hendro Kusumo adalah upaya untuk memahami hubungan antara akal (rasio) dan metafisik dalam kehidupan nyata, serta bagaimana konsep-konsep klasik seperti hakekat benda, materi, dan roh tetap relevan dalam konteks modern. Filsafat kekinian tidak hanya menekankan pada pemahaman logis dan skeptisisme kritis terhadap realitas, tetapi juga mengintegrasikan pemikiran antropologi dan psikologi untuk menelaah makna eksistensi manusia, kebahagiaan, serta hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Dengan demikian, filsafat kekinian berfungsi sebagai alat untuk menumbuhkan logika, memperdalam kesadaran spiritual, dan menghadirkan dialog holistik antara ilmu pengetahuan, tradisi budaya, dan pengalaman manusia sehari-hari.
Jadi, apakah Anda siap merenungi apa yang tersembunyi di balik fakta sehari-hari dan membuka pintu-pintu kebijaksanaan yang mungkin sudah lama tertutup? Mari bergabung dalam perjalanan filsafat yang tak habisnya ini.
Diterbitkan dari pengamatan kelas filsafat kelima bersama Dr. Slamet Hendro Kusumo di Omah Budaya Slamet OBS, Kota Batu
Senin Pon 13 Oktober 2025
Drs. Akaha Taufan Aminudin
KETUA SATUPENA JAWA TIMUR
#SatuPenaJawaTimur #HP3NKreatifBatu #KotaBatuLiterasiSastra #PuisiUntukRakyat #SastraSebagaiPengadilan #reels #video #berita_viral #fbpro #fyp #global #JangkauanLuas

Komentar
Posting Komentar