BRICS dan Runtuhnya Sentralitas Barat: Dialektika Kekacauan Amerika dalam Genealogi Tatanan Dunia Baru
![]() |
| Ilustrasi BRICS (Pic: Grok) |
“Ketika sang hegemon tremor, bukan berarti kekuatannya lenyap—tapi artinya panggungnya terbuka untuk pemain baru yang belum benar-benar dikendalikan.”
Seiring kemerosotan ekonomi, degradasi kepercayaan internasional, dan fragmentasi aliansi tradisional, Amerika Serikat menghadapi dilema besar sebagai kekuatan hegemonik.
Artikel ini meninjau bagaimana BRICS (termasuk negara-anggotanya seperti Rusia, China, India) memanfaatkan kekosongan hegemoni AS untuk memperkuat posisi mereka serta menegaskan visi multipolaritas.
Dengan mengacu pada analisis oleh Jacobin dan literatur politik global, tulisan ini akan mengevaluasi sejauh mana BRICS benar-benar mampu membentuk tatanan dunia alternatif, dan mana bagian yang masih manuver simbolik belaka.
Pendahuluan
Era setelah Perang Dingin ditandai dengan dominasi Amerika Serikat dan “Pax Americana”.
Berbagai krisis ekonomi, perang sembunyi-sembunyi, dan kebijakan isolasionis AS (misalnya tarif proteksionis) mulai meruntuhkan keunggulan struktural AS.
BRICS menampilkan diri sebagai wadah negara-Global South dan Emerging Powers untuk menegosiasikan ulang aturan global—baik dalam ekonomi, keuangan, maupun diplomasi.
Pernyataan bahwa “kekacauan AS” menjadi katalisator penguatan BRICS muncul dalam beberapa analisis ideologis. Kajian ini mengelaborasi mekanisme tersebut.
Metodologi
• Kajian literatur: artikel-artikel utama dari Jacobin dan jurnal akademik (contoh: “The World After American Decline”)
• Analisis data ekonomi dan geopolitik: perluasan anggota BRICS, representasi GDP global, dan proporsi populasi dunia (contoh: “The BRICS Expansion Isn’t the End of the World Order — or the End of the World” dari Jacobin)
• Kerangka teori: teori hegemonik (Antonio Gramsci), multipolaritas, dan konstruksi tatanan dunia baru.
Analisis
1. Pemicu: Ketidakstabilan AS sebagai hegemon
Artikel Jacobin menunjukkan bahwa kebijakan AS yang semakin proteksionis, isolasionis, dan tidak menentu menciptakan ruang bagi aktor lain untuk mencoba mengisi kekosongan kekuasaan.
Fakta-baru: BRICS dengan ekspansi anggotanya kini mewakili sekitar 30-36% GDP dunia dan hampir setengah populasi global.
2. Strategi BRICS: Alternatif Institusional & Ekonomi
BRICS tidak hanya bicara soal angka; mereka membentuk institusi alternatif seperti New Development Bank, sistem pembayaran non-dolar, serta memperkuat kontrol atas sumber daya strategis (mineral, energi)
Strategi ini mengeksploitasi preseden sanksi AS terhadap Rusia dan menunjukkan kerentanan sistem keuangan Barat.
3. Keterbatasan dan Kontradiksi
Meskipun begitu, BRICS bukan tanpa masalah: heterogenitas anggotanya, perbedaan orientasi geopolitik, dan kurangnya mekanisme kolektif yang kuat membuat mereka masih “kerangka yang belum selesai”.
Analisis ini menegaskan bahwa “tatanan dunia baru” bukanlah suatu revolusi yang sudah terjadi, melainkan proses yang berjalan dengan banyak rintangan.
Rekomendasi Kebijakan
• Indonesia perlu memperkuat diplomasi ekonominya dengan blok emerging seperti BRICS sambil tetap menjaga fleksibilitas aliansi tradisional.
• Membentuk strategi nasional yang menempatkan diversifikasi mata uang dan kerjasama teknologi sebagai prioritas.
• Mengadvokasi reformasi institusi global agar suaranya negara-Global South makin terdengar dalam tatanan baru.
BRICS sejatinya muncul pada saat AS mengalami turbulensi hegemoni. Namun bukan berarti BRICS otomatis menjadi pengganti dominasi AS.
Yang kita saksikan sekarang adalah persaingan hegemoni yang bergeser, bukan penghapusan total satu hegemoni oleh yang lain.
Bagi negara-negara seperti Indonesia, ini berarti peluang sekaligus risiko: peluang untuk diversifikasi aliansi, tetapi risiko tertinggal jika hanya menjadi pewajah di tatanan yang belum terbentuk sepenuhnya.
Referensi
• Ainun Naim, C., & Hasanah, F. (2024). Deconstructing the Empire: BRICS and the Rise of a Multipolar World. Andalas Journal of International Studies, Vol 21(17).
• Eagleton, O. (2023, August). The BRICS Expansion Isn’t the End of the World Order — or the End of the World. Jacobin.
• Roberts, M. (2025, October). The World After American Decline. Jacobin.
• SETA. (2025). BRICS+ and the New Global Order in an Age of Uncertainty.
• “The BRICS Expansion Isn’t the End of the World Order — or the End of the World.” By Branko Marcetic. Jacobin, 31 Aug 2023.
• “The World After American Decline.” By Arman Spéth & Michael Roberts. Jacobin, Oct 2025.
• UN – “Summary of the Advisory Opinion of 22 October 2025.” United Nations.
• “World Court: Israel Needs to Allow UN Aid into Gaza.” Human Rights Watch, Oct 24 2025.
• “The Bottom Line of the ICJ’s UNRWA Advisory Opinion.” Marko Milanovic. EJIL: Talk!, 23 Oct 2025.

Komentar
Posting Komentar