Reruntuhan dan Harapan: Dinamika Sandera, Jenazah, dan Negosiasi Perdamaian di Gaza 2025

Ilustrasi (Pic: Grok)

Skeptisme terhadap janji Israel rasional—dalam konflik, pihak yang punya kekuatan sering bermain fleksibel


Hamas melepaskan 20 sandera yang masih hidup sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata / pertukaran tahanan.  


Israel sebaliknya membebaskan lebih dari 1.900 tahanan Palestina sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.  


Selain sandera hidup, ada juga pengembalian jenazah sejumlah sandera (mayat) — disebut “28 deceased hostages” dalam sejumlah laporan.  


Tapi bukan semua jenazah dikembalikan sekaligus; sebagian jenazah “belum ditemukan / belum dikembalikan” masih menjadi masalah.  


Salah satu rencana dalam kesepakatan adalah bahwa jika jenazah tidak dikembalikan dalam jangka waktu tertentu (sekitar 72 jam sejak akhir pertempuran) maka “badan internasional” akan ikut membantu mencari.  


Jadi memang, kabar bahwa “sebagian jenazah belum ketemu” itu valid menurut laporan saat ini.



Kenapa “belum ketemu” itu bukan bukti otomatis bahwa semuanya “kocar-kacir”


Menganggap bahwa karena beberapa jenazah belum dikembalikan maka semua pasti hancur atau diabaikan adalah terlalu ekstrem. 


Beberapa faktor yang bisa menyebabkan jenazah belum ditemukan atau belum dikembalikan:


1. Lokasi yang sangat hancur / tertutup reruntuhan


Banyak area di Gaza telah dihancurkan total. Jenazah bisa tertimbun reruntuhan, tertimpa tanah runtuh, atau akses ke lokasi sangat sulit bahkan oleh pihak yang ingin mengevakuasi.


2. Identifikasi yang rumit


Mayat yang rusak parah (akibat bom, kebakaran, luka tembak) mungkin tidak bisa langsung dikenali. Perlu proses forensik (DNA, sidik jari, alat medis) yang memakan waktu.


3. Militer dan keamanan


Lokasi jenazah mungkin berada di daerah yang masih dianggap “zona konflik” atau milik kelompok bersenjata, sehingga evakuasi belum memungkinkan aman.


4. Kontrol dan negosiasi


Grup yang menahan jenazah atau kelompok yang punya kontrol wilayah bisa menahan pemulangan sebagai alat tawar atau syarat dalam negosiasi.


5. Perjanjian dan batas waktu


Kesepakatan yang ada sering menetapkan bahwa pengembalian jenazah harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu, tapi jika terlambat atau tidak sepenuhnya, ada klausul konsultasi pihak ketiga atau badan internasional. 


Laporan menyebut bahwa badan internasional akan membantu mencari jika jenazah tak dikembalikan dalam waktu 72 jam.  


Jadi “belum ditemukan” itu wajar saja dalam perang besar yang sangat destruktif.



Risiko pengingkaran oleh Israel 


Israel punya catatan—setidaknya menurut pengkritik dan pihak lawan—melakukan tindakan yang dianggap pelanggaran terhadap perjanjian atau interpretasi “amanat tak tertulis”. 


Beberapa risiko:


Israel bisa menunda penarikan militer atau melanjutkan operasi lokal di zona konflik meskipun ada kesepakatan, dengan dalih “masih ada sasaran militan”.


Dalam pertukaran tahanan, Israel mungkin menuntut syarat tambahan yang sifatnya berubah-ubah (misalnya: pelepasan hanya tahanan non-muslim, atau tahanan tertentu dikecualikan).


Penyaluran bantuan kemanusiaan bisa digunakan sebagai lever politik atau kontrol — Israel bisa membatasi akses bantuan ke Gaza jika pihak lain dianggap melanggar ketentuan.


Interpretasi “zona aman” atau “teritori yang ditarik mundur” bisa disubjektifkan agar Israel tetap mempertahankan keunggulan militer lokal.


Jadi ketidakpercayaan terhadap janji Israel bukan ketidakpedulian — itu sikap wajar dalam konflik di mana kekuatan militer dan keamanan selalu punya jalan untuk menawar ulang.



Perjanjian Damai Trump


Versi perdamaian ini sering disebut “rencana 20-21 poin untuk Gaza / rencana perdamaian 2025”.  


Intinya: gencatan senjata / gencatan militer jangka awal, pertukaran tahanan / sandera, pembebasan jenazah, pembukaan blokade kemanusiaan, penarikan sebagian militer Israel dari Gaza, pembentukan pemerintahan transisi Gaza (organisasi teknokrat atau netral) yang bukan langsung dikuasai Hamas, dan langkah-langkah keamanan di kemudian hari.  


Trump sebagai mediator akan bersama negara-negara tetangga (Mesir, Qatar, negara Arab) memfasilitasi monitoring dan jaminan pihak ketiga agar kesepakatan diterapkan.  


Namun, Hamas dalam laporan-laporan sebelumnya tidak mau melepaskan pengaruh militernya di Gaza seutuhnya, atau menyerah senjata total dalam jangka pendek sebagai bagian dari persyaratan.  


Pihak Israel, di sisi lain, ingin agar Hamas dinonaktifkan militernya dan agar Israel menjaga “garis keamanan” di Gaza serta jaminan keamanan terhadap serangan dari Gaza ke Israel.  


Tantangan utama: kepercayaan antara pihak, verifikasi implementasi (apakah militan benar-benar ditahan atau dilucuti, apakah Israel benar mundur), dan ketegangan politik domestik Israel (partai-partai yang menolak konsesi) dan di dalam Hamas (faksi militan keras menolak kompromi).



Adalah masuk akal bahwa sebagian jenazah belum ditemukan — bukan bukti langsung bahwa semua hancur.


Skeptisme terhadap janji Israel rasional—dalam konflik, pihak yang punya kekuatan sering bermain fleksibel.


Kesepakatan Trump merupakan kerangka yang kompleks, tapi langkah implementasinya sangat rentan terhadap pengingkaran, penafsiran ulang, dan situasi tak terduga di lapangan.


Diperlukan pengawasan independen (misalnya ICRC, PBB, tim forensik netral) agar apa yang sudah dijanjikan betul-betul dilaksanakan.








Referensi

1. Associated Press (AP News)

Living hostages and Palestinian prisoners are released as part of ceasefire in Gaza.

Diterbitkan 12–13 Oktober 2025.

https://apnews.com/article/9e4921406e846189c90144609c1a9530

2. The Guardian (edisi internasional)

Israel and Gaza prepare for release of hostages and prisoners.

Diterbitkan 12 Oktober 2025.

https://www.theguardian.com/world/2025/oct/12/israel-and-gaza-prepare-for-release-of-hostages-and-prisoners

3. The Guardian – Live Coverage

Trump heads to Middle East for release of hostages – as it happened.

Diterbitkan 12–13 Oktober 2025.

https://www.theguardian.com/world/live/2025/oct/12/gaza-ceasefire-live-aid-relief-hamas-release-israel-hostages

4. Reuters (laporan diplomasi AS–Timur Tengah)

Trump’s new peace framework aims to stabilize Gaza through Arab mediation.

Diterbitkan 11 Oktober 2025.

5. Al Jazeera English – Conflict & Diplomacy Desk

Analysis: The Trump Gaza Peace Plan 2025 and its fragile implementation.

Diterbitkan 10 Oktober 2025.

6. Human Rights Watch (HRW)

Gaza under Siege: Impact of Blockade on Civilians.

Update September 2025.

7. International Committee of the Red Cross (ICRC) 

Statement on access to hostages and recovery of remains in Gaza.

Rilis 11 Oktober 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan