Israel Menyerang Iran: Aliansi, Kapabilitas Militer, dan Perilaku Eskalasi Israel terhadap Iran

 

Ilustrasi serangan rudal (Pic: Grok AI)


Keberanian itu bukan euforia. Itu taruhan rasional dalam sistem anarkis yang keras dan tanpa wasit



Menurut Glenn Snyder dalam Alliance Politics (1997):


Negara dalam aliansi menghadapi dua risiko:

Abandonment (ditinggalkan sekutu)

Entrapment (terseret konflik sekutu)


Israel memiliki hubungan keamanan strategis sangat erat dengan Amerika Serikat. Namun hubungan itu bukan cek kosong otomatis untuk perang besar.


Literatur menunjukkan: Aliansi kuat meningkatkan rasa aman, tetapi tidak otomatis meningkatkan kecenderungan perang besar jika biaya sistemik terlalu tinggi.



Offensive Realism


John Mearsheimer berargumen bahwa negara akan memaksimalkan kekuatan relatif jika peluang struktural tersedia.


Israel menghadapi:

Ancaman eksistensial dari potensi nuklir Iran

Lingkungan regional yang volatil


Dalam logika ini, serangan preventif bisa dianggap rasional jika:

Ancaman dipersepsi mendekati titik tak bisa dibalik

Biaya menunggu lebih besar daripada biaya menyerang



Preventive War Logic


Menurut James Fearon (1995), perang dapat terjadi karena masalah komitmen kredibel.


Jika Israel percaya:

Iran akan menjadi lebih kuat secara militer di masa depan

Iran tidak bisa dipercaya menahan diri


Maka serangan preventif menjadi opsi rasional dalam model bargaining.



Kapabilitas Militer Israel


A. Superioritas Teknologi


Israel memiliki:

Sistem pertahanan udara multilayer seperti Israel Defense Forces dengan Iron Dome, David’s Sling, Arrow

Angkatan udara canggih dengan F-35I

Kapabilitas siber tingkat tinggi


B. Nuclear Ambiguity


Israel menerapkan kebijakan nuclear opacity

Tidak mengakui, tidak menyangkal.


Banyak analisis menyebut Israel memiliki deterrent nuklir terbatas.


Itu menciptakan: Asymmetric deterrence stability.



Apakah “Bekingannya” Membuat Israel Berani?


Hubungan dengan Amerika Serikat memberi:

Bantuan militer tahunan miliaran dolar

Integrasi intelijen

Proteksi diplomatik di Dewan Keamanan PBB


Namun literatur aliansi menunjukkan: Sekutu besar tidak selalu otomatis ikut perang jika konflik dimulai secara preventif.


AS punya kepentingan global yang lebih luas:

Stabilitas energi

Menghindari perang regional besar

Menghindari konflik simultan multipolar


Jadi “bekingan kuat” ≠ jaminan blank cheque.



Apakah Ini Kepedean atau Rasional?


Secara akademik, bukan soal percaya diri emosional.

Ini soal perhitungan rasional atas distribusi kekuatan dan risiko masa depan.


Israel kemungkinan menilai:

1. Waktu berpihak pada Iran jika program nuklir berlanjut

2. Serangan terbatas sekarang lebih murah daripada konflik besar nanti

3. Dukungan AS cukup untuk mencegah isolasi total


Itu disebut dalam literatur sebagai: window of opportunity logic



Risiko Eskalasi


Namun model security dilemma (Robert Jervis, 1978) mengingatkan:

Serangan preventif bisa memicu spiral balasan

Iran dapat merespons melalui proksi regional

Konflik bisa meluas tanpa niat awal kedua pihak



Probabilistic Assessment


Berdasarkan teori dan distribusi kekuatan:

🟢 Israel percaya diri karena kapabilitas tinggi

🟢 Israel memiliki dukungan strategis AS

🟡 Namun perang regional penuh tetap mahal bagi semua pihak

🔴 Eskalasi luas masih bergantung pada respons Iran



Israel bukan sekadar “kepedean.”

Ia bertindak dalam kerangka:

Kalkulasi preventif

Dukungan aliansi kuat

Superioritas teknologi militer


Namun struktur internasional tetap membatasi ruang eskalasi penuh.


Keberanian itu bukan euforia.

Itu taruhan rasional dalam sistem anarkis yang keras dan tanpa wasit.







Referensi:

Glenn Snyder (1997). Alliance Politics. Cornell University Press.

Leeds, B. A. (2003). Alliance Reliability in Times of War. International Organization.

Kenneth Waltz (1979). Theory of International Politics.

John Mearsheimer (2001). The Tragedy of Great Power Politics.

James Fearon (1995). Rationalist Explanations for War. International Organization, 49(3).

Powell, R. (2006). War as a Commitment Problem. International Organization.

Robert Jervis (1978). Cooperation Under the Security Dilemma. World Politics.

Thomas Schelling (1966). Arms and Influence.

Snyder, G. (1961). Deterrence and Defense.

Kaye, D. D. (2012). Iran and the Challenge to Nonproliferation. Survival.

Maloney, S. (2015). The Roots of Iranian Foreign Policy. Survival.

Gause, F. G. (2014). Beyond Sectarianism: The New Middle East Cold War.

Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) Military Expenditure Database.

International Institute for Strategic Studies (IISS). The Military Balance.

RAND Corporation reports on U.S.–Iran and regional force balance.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?