Ketergantungan, Kekuasaan, dan Ketidakpastian: Indonesia, Tarif AS, dan Politics of Strategic Alignment di Era Trump

Ilustrasi Prabowo dan Trump (Pic: Grok AI)


Bukan soal “baper” atau “ngambil keputusan tanpa nalar.” Itu dampak struktural dari sistem internasional yang tidak egaliter



Dalam teori hubungan internasional (HI), negara menengah (middle powers) sering menghadapi:

ketergantungan struktural pada ekonomi dan keamanan negara hegemon (mis. AS)

dilema antara kepentingan domestik dan prioritas stabilitas eksternal

trade-offs antara sovereignty dan strategic alignment


Ini digambarkan dalam literatur realist-liberal, misal:

Keohane & Nye (1977) – Power and Interdependence

Ikenberry (2011) – Liberal Leviathan

Hurrell (1995) – Middle Powers in International Politics


Tulisan ini menggarisbawahi bahwa kekuatan struktural AS memungkinkan ia mempengaruhi kebijakan luar negeri negara lain melalui:

ancaman coercive diplomacy

insentif ekonomi

kondisi pasar global

legitimasi keamanan



Konteks Global 2026


Pada 25 Februari 2026, beberapa fenomena geopolitik relevan:


1. Kebijakan tarif proteksionis AS di bawah pemerintahan Trump

– sering muncul tanpa peringatan dan beralasan “keamanan nasional”.

– negara lain terkejut karena dampaknya langsung ke pendapatan pajak dan investasi asing.


2. Board of Peace (BoP) dan keterlibatan Indonesia

– sebagai platform diplomatik yang dipromosikan oleh AS

– menawarkan paket bantuan kemanusiaan, legitimasi global, dan peluang dagang


3. Ancaman politik pasar global terhadap kebijakan domestik

pembatalan tarif oleh Mahkamah Agung AS menunjukkan ketidakpastian kebijakan ekonomi.


Dalam literatur HI, ini disebut sebagai: structural vulnerability of middle powers in asymmetrical interdependence systems.



Pemahaman Ketergantungan Struktural


A. Ketergantungan Ekonomi


Menurut Keohane & Nye, interdependensi ekonomi sering mengubah struktur kekuasaan:

AS sebagai pasar besar → negara lain sangat sensitif terhadap perubahan tarif AS.

Jika AS mengenakan tarif proteksionis, pasar ekspor negara menengah jadi terombang-ambing.


Ini bukan sekadar “pilihan.” Ini fakta struktural.


Indonesia, seperti banyak negara ekspor-orientasi, punya proporsi tertinggi pada:

📌 ekspor komoditas

📌 investasi portofolio asing

📌 aliran modal langsung AS


Ketika AS membuat kebijakan proteksionis, penerima dampaknya tidak punya leverage simetris.


Itu bukan manipulasi personal si Trump, tetapi dampak dari struktur pasar global.


B. Ketergantungan Keamanan


Dalam liberal institutionalism, banyak negara bergantung pada AS untuk:

dukungan militer

jaminan keamanan regional

kerja sama intelijen

operasi perdamaian


BoP adalah manifestasi dari struktur itu: legitimasi + insentif keamanan + insentif ekonomi.


Ketika negara menengah mendekat ke hegemon, mereka cenderung:

➡ mengadopsi kebijakan yang dianggap “layak oleh hegemon”

➡ menyeimbangkan antara dukungan domestik dan tekanan eksternal

➡ menghadapi cost-benefit yang tergantung pada preferensi hegemon


Ini bukan soal “baper”. Ini soal tekanan struktural.



Strategi AS: Coercive Diplomacy dan Economic Levers


Alfred Thayer Mahan dan Robert Gilpin menulis tentang:

📌 kekuatan militer sebagai leverage

📌 kekuatan ekonomi sebagai leverage


AS menggunakan kombinasi:

ancaman tarif

bantuan multilateral via BoP

legitimasi politik global

akses ke pasar dan jaringan investasi


Ini bukan “emosi politik Trump”.

Ini praktik coercive diplomacy dalam literatur politik internasional.


Contoh analog:

Mancur Olson (1982) – kekuatan ekonomi besar bisa membuat “rules of the game” yang menguntungkan dirinya.



Mahkamah Agung AS: Pembatalan Tarif


Ini menunjukkan:


1. Ketidakpastian kebijakan domestik AS

– pengadilan independen bisa membatalkan kebijakan eksekutif.

– pasar dan negara lain tidak bisa memprediksi stabilitas kebijakan.


2. Risiko bagi negara menengah

ketika struktur hukum domestik AS berubah 180°, negara yang sudah menyesuaikan diri menghadapi ketidakpastian besar.


3. Asimetris antara keputusan politik dan keputusan hukum

Ini menunjukkan betapa rentannya negara lain terhadap kombinasi politik domestik AS + struktur hukum AS.



Strategi Negara Menengah: Respon dan Resiliensi


Dalam literatur politik internasional, ada beberapa strategi yang sering dibahas:


a. Hedging


Negara menengah tidak sepenuhnya menyeberang ke satu blok.

Namun tetap menjalin hubungan yang seimbang.


b. Bandwagoning


Mengikuti hegemoni dan menerima risiko ketergantungan.


c. Balancing


Memperkuat kapasitas sendiri dan/atau bekerja sama dengan kekuatan lain untuk mengurangi ketergantungan.


Indonesia tampaknya berada di titik hedging dengan bias ke bandwagoning, karena:

keterlibatan di BoP

kesepakatan dagang

dukungan politis terhadap Israel/AS

dan pada saat yang sama mempertahankan prinsip bebas-aktif


Ini mencerminkan dilema negara menengah dalam sistem yang tidak simetris.



Dampak Jangka Panjang


Secara jangka panjang, ketergantungan struktural mampu menghasilkan:


1. Volatilitas kebijakan luar negeri

sering recalibration sesuai perubahan di negara hegemon


2. Masalah legitimasi domestik

pemerintah dipaksa menjelaskan keputusan yang dipengaruhi eksternal


3. Keterbatasan otonomi kebijakan

negara tidak sepenuhnya bebas membuat keputusan yang optimal


4. Risiko backlash domestik

karena keputusan yang dianggap “mengikuti hegemon” dapat menggerus dukungan publik



Kesimpulan


Kebijakan Indonesia terhadap tarif AS + keterlibatan di BoP adalah contoh klasik:

📌 negara menengah dalam sistem hegemonik

📌 struktur kekuatan yang asimetris

📌 ketergantungan yang sulit dipecahkan

📌 dan realpolitik yang mewarnai keputusan yang tidak sepenuhnya rasional secara domestik


Itu bukan soal “baper” atau “ngambil keputusan tanpa nalar.”

Itu dampak struktural dari sistem internasional yang tidak egaliter.










Referensi


Hurrell, A. (1995). Regionalism in theoretical perspective. In L. Fawcett & A. Hurrell (Eds.), Regionalism in World Politics. Oxford University Press.


Keohane, R. O., & Nye, J. S. (1977). Power and Interdependence: World Politics in Transition. Little, Brown.


Ikenberry, G. J. (2011). Liberal Leviathan: The Origins, Crisis, and Transformation of the American World Order. Princeton University Press.


Gilpin, R. (1987). The Political Economy of International Relations. Princeton University Press.


Olson, M. (1982). The Rise and Decline of Nations: Economic Growth, Stagflation, and Social Rigidities. Yale University Press.


Bosco, D. (2009). Five to Rule Them All: The UN Security Council and the Making of the Modern World.Oxford University Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?