KH Abdurrahman Wahid, Pahlawan Nasional

 


Oleh: Akaha Taufan Aminudin 


Puisi Esai: Menyelami Jejak Kemanusiaan Gus Dur di Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA Jawa Timur


Sebuah ruangan sangat istimewa di kantor DPC K‑SARBUMUSI,

lampu neon berkelip,

suara langkah kaki menyatu dengan derak kursi.

Di sana, Rudianto, sang ketua, mengangkat gelas kopi,

menyuarakan nama yang kini terukir dalam prasasti:

KH Abdurrahman Wahid, sang Pahlawan Nasional.


> _“Haul bukan sekadar ritual, melainkan panggilan untuk menghidupkan kembali nilai‑nilai kemanusiaan.”_



Kata‑kata itu menari di antara dinding‑dinding berplakat,

menjadi benang merah yang menjahit beragam suara:

buruh, petani, pelajar, seniman,

semua bersatu dalam satu tarik‑napas.


---


1. *Bakti Sosial – Obat Tradisional dan Kanuragan*

Sabtu Legi, 20 Desember 2025,

Padepokan Panotogama Bumiaji – Batu,

tempat di mana ramuan‑ramuan leluhur disebar,

dan tangan‑tangan terampil mengayunkan senjata‑senjata kanuragan.

Di sini, kata “kesehatan” berubah menjadi “kebersamaan”.

Setiap tetes obat, setiap gerakan,

menjadi puisi gerak yang menuliskan harapan:

bahwa kesejahteraan buruh adalah napas kehidupan kota.


2. *Diskusi – Menyelami Alam dan Manusia*

Jum’at Pon, 2 Januari 2026,

di kantor PCNU, patung sembilan nilai Gus Dur berdiri tegak,

seakan menunggu pertanyaan‑pertanyaan yang belum terjawab.

Dialog mengalir, mengalir seperti sungai Brantas,

menyentuh akar‑akar pluralisme,

menyapu bersih prasangka,

menumbuhkan kembali rasa cinta pada bumi dan sesama.


3. *Festival Sastra Cipta dan Baca Puisi, Puisi Esai, Cerpen, – Suara Generasi*

Jum’at Kliwon, 9 Januari 2026,

di Perguruan Taman Siswa,

suara‑suara muda mengguncang ruang,

menyanyikan bait‑bait Gus Dur tentang kebebasan beragama,

tentang toleransi yang mengalir dalam darah.

Setiap puisi adalah jejak kaki,

setiap gerakan tangan adalah langkah menapaki jejak sang Kyai.


4. *Stand‑Up Comedy – Tawa sebagai Doa*

Jum’at Pahing, 16 Januari 2026,

di Graha Pancasila,

komedian‑komedian lokal menertawakan diri,

menyindir kebijakan, mengolok‑olok kebodohan,

tetapi dengan lembut mengingatkan:

humor adalah jembatan, bukan tembang.

Tawa Gus Dur, yang selalu mengalir,

menjadi nada yang menyeimbangkan seriusnya perjuangan.


5. *Puncak Haul – 7 Februari 2026*

Akhirnya, pada Sabtu Pon, 7 Februari 2026,

seluruh elemen masyarakat berkumpul,

menyanyikan lagu‑lagu lama,

menuliskan puisi‑puisi baru,

menyulam kain‑kain kebersamaan di atas panggung.

Di sana, Gus Dur bukan lagi sekadar nama,

melainkan spirit yang mengalir dalam setiap napas,

dalam setiap langkah kaki yang melangkah bersama.


---


*Gus Dur, sang penyair kemanusiaan*


Kota Batu, dengan lembah‑lembahnya yang hijau,

menjadi kanvas bagi puisi‑esai ini.

Setiap rangkaian acara adalah bait,

setiap pertemuan adalah rima,

setiap tindakan adalah irama.

Gus Dur, sang penyair kemanusiaan,

telah menuliskan jejaknya di hati warga Batu,

dan kini, lewat Haul ke‑16,

kita menuliskan kembali,

dengan tinta kebersamaan, keadilan, dan cinta.


Kota Batu, 13 Desember 2025 –

_Akaha Taufan Aminudin_

Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi

SIKAB – HP3N Kota Batu

SATUPENA JAWA TIMUR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan