Reproduksi Kuasa dan Delegitimasi Perlawanan: Analisis Kritis Fase Kedua Ceasefire Gaza pada Trump–Netanyahu Talks
![]() |
| Ilustrasi Trump-Netanyahu talks (Pic: Grok) |
Struktur kuasa internasional masih mendikte legitimasi dan syarat perdamaian, yang menimbulkan pertanyaan etis maupun praktis mengenai keadilan dan durabilitas solusi Gaza
Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Mar-a-Lago tanggal 29 Desember 2025 menandai fase baru diplomasi perdamaian terkait konflik Israel–Gaza yang telah berlarut sejak 7 Oktober 2023.
Diskusi berfokus pada peralihan fase satu ceasefire menuju fase dua, yang menuntut demiliterisasi total Hamas dan pembentukan otoritas teknokratis Palestina dari luar struktur Hamas, serta kemungkinan penempatan pasukan internasional.
Artikel ini menganalisis bagaimana narasi ini mencerminkan dilema legitimasi politik, standard ganda dalam penegakan gencatan senjata, dan relasi struktural antara aktor dominan (AS–Israel) dengan aktor pemberontak (Hamas).
Selain itu, tulisan ini mengkritisi ketidakseimbangan implementasi gencatan senjata serta interpretasi ancaman dan keamanan yang bias terhadap satu pihak dalam konteks hukum internasional.
Latar Belakang Diplomasi Ceasefire Gaza
Pada Oktober 2025, sebuah rencana perdamaian Gaza yang didukung oleh Amerika Serikat dirancang dalam beberapa fase.
Fase pertama berfokus pada pengurangan kekerasan dan peningkatan akses kemanusiaan. Namun, sejak saat itu, terdapat klimaks baru dalam tekanan terhadap Hamas untuk menyerahkan senjatanya sebagai syarat lanjutan negosiasi.
Pertemuan Trump–Netanyahu berlangsung di Mar-a-Lago, Florida, di mana isu demiliterisasi Hamas menjadi titik sentral pembicaraan, berbarengan dengan ancaman tegas dari Trump terhadap kelompok tersebut jika tidak mematuhi tuntutan.
Trump menyatakan Hamas akan menghadapi “hell to pay” jika gagal membongkar struktur militernya.
Diplomasi Kuasa vs Legitimitas Perlawanan
Dalam kajian hubungan internasional, konflik bersenjata sipil sering dianalisis melalui dua lensa utama:
• Realisme struktural, yang melihat aktor utama mengejar keamanan dan kepentingan strategis melalui aliansi dan tekanan.
• Teori legitimasi perlawanan, yang mempertimbangkan bagaimana aktor nonnegara (seperti Hamas) menempatkan diri dalam narasi sah perjuangan melawan pendudukan.
Kedua lensa ini bersinggungan pada isu Gaza: sementara AS dan Israel menempatkan itu sebagai urusan keamanan struktural, Hamas dan pendukungnya melihatnya sebagai legitimasi perjuangan terhadap ketidakadilan dan pendudukan.
Trump–Netanyahu Talks: Isi dan Dinamika Utama
1.Disarmament sebagai Syarat Diplomasi
Trump menegaskan bahwa tanpa pembongkaran senjata secara total, transisi ke fase dua tidak mungkin terjadi.
“Disarmament harus dilakukan dalam jangka waktu singkat,” kata Trump, meskipun Hamas menyatakan tetap mempertahankan senjata sebagai alat pertahanan sampai pendudukan berakhir.
2. Kecenderungan Politik dan Simbolisme Persekutuan
Pertemuan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya hubungan personal dan politis antara Trump dan Netanyahu — suatu vernacular diplomacy di mana hubungan elit menjadi instrumen pokok dalam menetapkan agenda kebijakan luar negeri.
Trump juga mengecam Iran dan menegaskan dukungan terhadap Israel dalam menghadapi ancaman nuklir, menambah dimensi regional yang lebih luas terhadap pembicaraan Gaza.
3. Ketimpangan Implementasi Gencatan Senjata
Meskipun fase pertama gencatan senjata masih berlaku, laporan menunjukkan bahwa Israel telah melakukan operasi militer terbatas serta pembatasan akses bantuan kemanusiaan di Gaza sejak Oktober, yang menimbulkan pertanyaan kritis tentang konsistensi dan keadilan implementasi gencatan senjata itu sendiri — sebuah masalah yang tidak diangkat dengan urgensi setara saat berbicara tentang disarmament Hamas.
Analisis Kritis: Standard Ganda dan Delegitimasi
Fokus pada disarmament sebagai syarat lanjutan diplomasi mencerminkan apa yang dikritik sebagai standard ganda dalam politik transisi damai.
Di satu sisi, pihak yang dianggap “resmi” atau negara menerima legitimasi penuh dalam agenda negara-negara kuat.
Di sisi lain, kelompok seperti Hamas diposisikan sebagai entitas yang harus dilucuti sebagai prasyarat perdamaian, tanpa penilaian setara terhadap tindakan pihak dominan seperti frekuensi serangan atau pembatasan akses bantuan.
Ini mencerminkan politisasi keamanan internasional, di mana “keamanan” seolah hanya terkait kelompok militan tetapi tidak secara simetris pada kekuatan militer konvensional.
Implikasi Kebijakan
1. Tantangan pada Framework Hukum Internasional
Agenda disarmament tanpa penyelesaian struktural terhadap isu pendudukan menempatkan hukum humaniter internasional dalam dilema: apakah keamanan nasional dapat dijustifikasi tanpa koreksi proporsional terhadap tindakan pihak dominan?
2. Dampak terhadap Kepercayaan Negosiasi
Pendekatan yang menekankan disarmament sebagai prasyarat tunggal berpotensi menghambat dialog substantif dan justru memperpanjang ketidakstabilan, karena pihak yang merasa tidak diakui legitimasi politisnya akan semakin skeptis terhadap mekanisme diplomasi tradisional.
Pertemuan Trump–Netanyahu pada 29 Desember 2025 menunjukkan bagaimana kekuatan diplomasi utama menetapkan kerangka naratif perdamaian yang tidak simetris, di mana kebutuhan pihak yang lebih lemah (Hamas) harus tunduk sementara pertanyaan terhadap tindakan pihak dominan cenderung diabaikan.
Pendekatan ini mencerminkan realitas di mana struktur kuasa internasional masih mendikte legitimasi dan syarat perdamaian, yang menimbulkan pertanyaan etis maupun praktis mengenai keadilan dan durabilitas solusi Gaza.
Referensi
• Reuters. (2025, 29 Desember). Trump warns Hamas of severe consequences if they do not disarm and meets Netanyahu at Mar-a-Lago.
• The Guardian. (2025, 29 Desember). Trump and Netanyahu meeting linked to pushing second phase of Gaza ceasefire, warns Hamas of “hell to pay”.
• Al Jazeera. (2025, 29 Desember). Trump threatens Hamas, warns Iran of further strikes after talks with Netanyahu.
• ABC News. (2025, 29 Desember). Netanyahu meets Trump at Mar-a-Lago; Gaza ceasefire broadly holding with sporadic clashes.
• WPBF. (2025, 29 Desember). Trump–Netanyahu meeting ahead of second phase Gaza talks focuses on humanitarian aid and reconstruction.

Komentar
Posting Komentar