Puisi Esai tentang Sumatra dan Balangan: Air yang Datang Tanpa Permisi
![]() |
| Ilustrasi Air yang Datang Tanpa Permisi (Pic: Grok) |
Air yang Datang Tanpa Permisi
Air tidak pernah bertanya
apakah kita siap kehilangan.
Di Sumatra,
ia turun bukan sebagai hujan,
melainkan sebagai keputusan.
Sungai membesar,
menjadi kalimat panjang
yang menenggelamkan halaman rumah,
kenangan di lemari,
dan foto keluarga yang tak sempat diselamatkan.
Tanah longsor menutup jalan
seperti tangan Tuhan yang tiba-tiba menahan manusia
agar berhenti berlari dari akibat
yang ia ciptakan sendiri.
Di Aceh,
air datang sambil membawa ingatan lama:
tentang janji pembangunan,
tentang pusat dan pinggiran,
tentang suara yang selalu lebih cepat tenggelam
daripada air itu sendiri.
Lalu Balangan.
Tidak ada bukit runtuh di sana.
Yang runtuh adalah batas antara sungai dan rumah.
Air melompat tanpa izin,
masuk ke ruang tamu,
ke dapur,
ke ranjang yang masih hangat oleh tidur semalam.
Banjir bandang tidak menghancurkan gunung,
ia menghancurkan ilusi:
bahwa manusia sudah cukup pintar
untuk hidup berdampingan dengan alam
tanpa merampas nadinya.
Lumpur menempel di kaki anak-anak,
bukan sebagai permainan,
tapi sebagai pelajaran awal
tentang betapa rapuhnya dunia
yang diwariskan kepada mereka.
Dan ketika air surut,
yang tersisa bukan hanya kerusakan,
melainkan pertanyaan
yang selalu ditinggalkan bencana:
Apakah ini takdir?
Atau akumulasi kelalaian
yang kita sebut pembangunan
agar terdengar lebih sopan?
Air tak punya ideologi.
Ia hanya mengikuti hukum alam.
Yang punya ideologi adalah manusia
saat memilih menebang,
menutup resapan,
dan menganggap sungai
sekadar saluran pembuangan.
Bencana tidak datang tiba-tiba.
Ia hanya datang ketika akhirnya
kita kehabisan alasan
untuk menyangkal sebabnya.

Komentar
Posting Komentar