Ketahanan Nasional dan Solidaritas Rakyat: Studi Perbandingan 8 Negara

Ilustrasi solidaritas rakyat (Pic: Meta AI)

Ketahanan nasional paling efektif adalah yang tumbuh dari bawah, bukan hanya dipaksakan dari atas


Ketahanan nasional tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer atau ekonomi, melainkan oleh kekuatan jiwa kolektif rakyatnya


Ketika bangsa menghadapi krisis, perang, tekanan internasional, atau bahkan infiltrasi ideologi, faktor penentu keberlangsungan negara bukan hanya pemerintah—melainkan solidaritas dan loyalitas rakyat terhadap negara


Tulisan ini menelaah model-model ketahanan dan kekuatan solidaritas rakyat di beberapa negara Timur dan Asia Tenggara: Palestina, Cina, Rusia, Iran, Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Arab Saudi.


Saya akan mengurai:

1. Model Ketahanan yang dominan (ideologis, militer, ekonomi, sosial, agama)

2. Kualitas Solidaritas Rakyat (organik vs rekayasa negara)

3. Ancaman dan tantangan kontemporer masing-masing negara

4. Relevansi bagi Indonesia: di mana posisi kita dalam spektrum daya tahan bangsa?



1. Palestina – Ketahanan Rakyat Penuh Luka


Palestina adalah simbol perlawanan tanpa negara. Ketahanan mereka tidak dibentuk oleh institusi formal, melainkan oleh rasa memiliki tanah air yang dikhianati


Kendati mengalami genosida dan pendudukan, rakyat Palestina tetap teguh. 


Ini adalah ketahanan emosional, spiritual, dan komunal, didorong oleh agama, sejarah, dan penderitaan.



2. Cina – Ketahanan Berbasis Kendali Negara


Cina menggunakan nasionalisme terstruktur, dikendalikan oleh negara lewat kurikulum, media, dan sanksi sosial. 


Meski dianggap otoriter, rakyatnya memiliki kebanggaan tinggi terhadap identitas nasional, terlebih dalam menghadapi tekanan eksternal dari Barat.



3. Rusia – Ketahanan Ideologis dan Kultural


Rusia menggunakan identitas historis dan religius (Ortodoks dan kejayaan Soviet) untuk memupuk ketahanan nasional. 


Invasi ke Ukraina mengungkap bahwa rakyat masih mau berkorban, namun muncul resistensi di kalangan muda. 


Rusia menghadapi ujian besar antara kesetiaan ideologi vs krisis moral akibat perang.



4. Iran – Ketahanan yang Retak


Dulu sangat kuat dalam retorika revolusi Islam, Iran kini menghadapi kehancuran ekonomi, ketidakpercayaan rakyat, dan pemberontakan generasi muda


Tanpa perlu serangan fisik, negara ini bisa lumpuh oleh krisis legitimasi dan infiltrasi psikologis oleh intelijen asing.



5. Indonesia – Ketahanan Fluktuatif


Indonesia punya ideologi kuat dalam Pancasila dan semangat gotong royong. Namun, dalam praktiknya, solidaritas rakyat sangat fluktuatif dan mudah terpecah oleh polarisasi politik, hoaks, dan elite yang korup. 


Indonesia berada di persimpangan: akan menjadi bangsa tahan banting seperti Palestina atau rapuh seperti Iran?



6. Malaysia – Ketahanan Formalistik


Malaysia relatif stabil, tapi banyak konflik horizontal bersifat diredam secara legalistik, bukan diselesaikan secara kultural


Ketahanan rakyat lebih diarahkan oleh institusi, bukan muncul dari akar rumput. 


Potensial rapuh bila krisis sosial-ekonomi datang secara mendadak.



7. Brunei – Ketahanan Diam-diam


Brunei adalah contoh ketahanan berbasis kepasrahan dan legitimasi agama. 


Rakyatnya relatif tenang, tapi tidak teruji secara krisis. Ketahanan seperti ini efektif selama negara mampu menjaga ekonomi dan simbol religius tetap kokoh.



8. Arab Saudi – Ketahanan Uang dan Kekuasaan


Monarki Saudi menggunakan kombinasi kekayaan dan kontrol sosial untuk menjaga stabilitas. 


Namun, solidaritas rakyat bersifat pasif dan top-down. Jika sumber ekonomi utama (minyak) terguncang atau simbol keagamaan dipertanyakan, ketahanan ini bisa retak.



Kesimpulan


Ketahanan nasional paling efektif adalah yang tumbuh dari bawah, bukan hanya dipaksakan dari atas. 


Palestina menunjukkan ketahanan paling mengakar, Cina dan Rusia berhasil mengelola ketahanan melalui sistem terstruktur, sementara Iran memberi contoh bagaimana krisis ekonomi dan hilangnya kepercayaan bisa menghancurkan negara tanpa peluru.


Indonesia harus waspadaJika rakyatnya tidak diberdayakan secara politik, ekonomi, dan kultural, Indonesia bisa bernasib seperti Iran—lemah dari dalam, meski tampak stabil dari luar.








Referensi

  • Anderson, B. (2006). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Verso.
  • Gellner, E. (1983). Nations and Nationalism. Cornell University Press.
  • Said, E. W. (1992). The Question of Palestine. Vintage.
  • Huntington, S. P. (1996). The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Simon & Schuster.
  • Kepel, G. (2002). Jihad: The Trail of Political Islam. Belknap Press.
  • Roy, O. (2004). Globalized Islam: The Search for a New Ummah. Columbia University Press.
  • Weiss, M., & Hassan, H. (2011). ISIS: Inside the Army of Terror. Regan Arts.
  • Tempo. (2025). Unjuk Rasa Iran dan Perang Psikologis Asing. Edisi 30 Mei 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?